politik gaduhNegeri ini benar-benar sedang diuji. Di tengah himpitan kasus sensitif terkait dengan dugaan penistaan agama yang ditujukan kepada Gubernur nonaktif DKI-Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias AHOK, situasi politik dan wibawa negara sedang dipertaruhkan. Perkara yang muncul ini pasti bukan perkara ringan, melainkan dapat berkembang liar karena muncul bersamaan dengan Pilkada DKI Jakarta, dan kebetulan AHOK menjadi salah satu kandidat.

Sudah cukup lama, ruang publik dipenuhi dengan silang pendapat terkait dengan persoalan itu. Mulai dari kasus RS Sumber Waras, Masalah reklamasi, hingga penistaan agama. Dan semua persoalan itu, ikut menguras energi bangsa. Oleh sebab itu, persoalan yang berpotensi membelah ke-Indonesia-an dan kebhinekaan ini seyogyanya bisa diselesaikan secara profesional dan proporsional.

Dengan bahasa lain, persoalan ini sebenarnya terkait masalah hukum, sehingga harus diselesaikan secara hukum yang adil dan beradap, sehingga tidak perlu dibawa ke ranah politik. Hanya lewat ranah hukum yang pantas dan layak menangani masalah AHOK dan sekaligus menuntaskannya (Media Indonesia, 15/11/2016).    

Karena itu, terkait masalah tersebut, Presiden Jokowi pernah meminta publik agar bijak dan berpikir jernih dalam membaca postingan bernada provokatif dari media sosial (MedSos). Pesan itu layak diperhatikan, karena jika ditelan mentah-mentah bisa sangat berbahaya dan menimbulkan perpecahan antar anak bangsa. Karena itu juga diingatkan membuat postingan di medsos ada batasnya, ada etika dan moral, serta kesantunan yang harus dijaga bersama.

Memang bisa seperti melalui lorong gelap, di satu sisi membuat gaduh jagad politik seperti 4 November lalu, tapi Medsos juga merupakan terobosan dalam teknologi komunikasi massa yang mampu mempengaruhi pola interaksi sosial. Bahkan, mereka bisa membaur tanpa harus dibatasi ruang dan waktu, serta klas sosial, bahkan suku, agama, ras, dan antar golongan. Kecanggihan antara teknologi komunikasi dan sosiologi itu mengubah model yang semula monolog menjadi dialog dari para pembaca konten, menjadi penerbit konten.

Dan, salah satu kekuatan media sosial ini terletak pada jejaring sosial (nerworking) antar dua elemen, yakni individual dan hubungan sosial. Interkoneksitas antara individu (person) dan lingkungan sosial menjadi sedemikian intens dan cepat lewat jaringan virtual. Begitu kuat pengaruh Medsos ini hingga memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mengambil keputusan berdasarkan preferensi yang dibentuk oleh dunia maya.

Oleh sebab itu penggunaan media sosial perlu dilandasi sikap kritis, dewasa, dan bertanggungjawab, agar manfaat dan kegunaan Medsos menjadi lebih konstruktif bagi kepentingan publik dan tidak untuk propaganda politik yang kian gaduh. Medsos ini ibarat pisau, netralitasnya menjadi hilang atau kabur  manakala ditangan seorang dokter untuk operasi, ibu rumah tangga untuk mengupas buah, dan penjahat untuk merampok.  

Karena itu, kemajuan tehnologi komunikasi mestinya untuk meraih kebhinekaan Indonesia dan memajukan demokrasi, hingga tidak dibelokkan untuk menambah kegaduhan jagad politik Indonesia. Kuncinya, negara harus hadir dan tidak boleh diam, apalagi kalah, dalam membendung sinyal kebencian lewat media sosial yang kini sedang mekar di tanah air (FSS).    

Category: Our Stand

CATAHU 2018

Tidak terasa penghujung tahun 2018 sudah di depan mata dan masuk tahun baru 2019. Lantas apa yang terjadi sepanjang tahun 2018 ini? Dari perkembangan Media Sosial, yang ikut mewarnai politik secara drastis, dari semula strukturalis menjadi populis, dari berorientasi kekuasaan, kini lebih kepada keseharian.

Perubahan itu berimplikasi pada menguatnya representasi dan partisipasi netizen melalui media sosial secara masif. Sementara perkembangan dunia politik baik partai maupun parlemen cenderung stagnan. Kedua institusi itu nyaris tak menorehkan karya monumentalnya, justru banyak kader partai, anggota parlemen, dan kepala daerah terjerat korupsi. Itu persoalan penting 2018, dan bagaimana prospek 2019?

Untuk mengulasnya, PARA Syndicate menggelar DISKUSI PUBLIK sebagai
Catatan Akhir Tahun 2018, dengan tema:

"Riuh Tahun Politik: More Noise than Voice"

Tulisan-tulisan berikut adalah paparan hasil kajian dalam sub topic:

- Partai & Pileg 2019 (FS Swantoro)
- Korupsi (Jusuf Suroso)
- Politik Hukum (Agung Sulistyo)
- Media & Komunikasi (Bekti Waluyo)
- Pilpres 2019 (Ari Nurcahyo)


 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate