Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI-Jakarta telah melakukan pengundian nomor urut bagi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI (Selasa, 25/19/2016).

Komisioner KPU DKI Bidang Pencalonan dan Kampanye, Dahliah Umar, mengatakan pengambilan nomor urut pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni mendapat nomor urut 1, pasangan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat mendapat nomor urut 2, dan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno memperoleh nomor urut 3.  

Dengan demikian ada tiga pasangan calon gubernur DKI yang akan melakukan kampanye pada 28 Oktober 2016.  Sebenarnya, semua nomor urut itu sama, karena nomor urut 1 tidak akan ada artinya tanpa nomor urut 2, dan nomor urut 2, tidak akan ada artinya kalo tidak ada nomor urut 3.

        Dengan demikian, siapa yang menang dalam Pilgub DKI,
        pemenangnya adalah warga Jakarta sehingga Pilkada harus
        Jurdil, Damai, dan Demokratis
.

 

Hasil survei Saiful Mujani Research Center (SMRC) pada 1 – 9 Oktober 2016 dalam Pilkada DKI-Jakarta, jika dilakukan hari ini, maka hasilnya menunjukkan pasangan Ahok-Djarot meraih 45,4 %; pasangan Agus-Sylvia 22,4 %, dan pasangan Anies-Sandiaga 20,7 %. Padahal diperkirakan sebelumnya, pasangan Agus-Sylvia menempati posisi juru kunci ternyata bisa menyalib Anies-Sandiaga. Survei ini menunjukkan elektabilitas dan popularitas masih dipegang Petahana Ahok-Djarot. Sisanya 11,6 persen jawab tak tahu atau menjawab.

Kepuasan publik terhadap kinerja pasangan Ahok-Jarot cukup tinggi. Untuk kaitan dengan rumah sakit dan Puskesmas maka kepuasan publik terhadap rumah sakit dan Puskesmas 92 persen, pelayanan kecamatan dan kelurahan 90 persen, terhadap perawatan gedung sekolah 90 persen, layanan air bersih 89 persen, jaringan listrik 89 persen, dan kondisi jalan 88 persen. Kemudian soal kebersihan (sampah) 80 persen berada pada kategoti baik atau sangat baik. Publik juga menyatakan puas terhadap kinerja Pemprov DKI saat menangani banjir, menangani sampah, dan yakin dengan program beasiswa warga yang tak mampu.

Kepuasan terendah ada pada kondisi kelancaran transportasi dengan tingkat kepuasan hanya 49 persen. Pelaksanaan pemerintah DKI-Jakarta juga dinilai baik, oleh 6 persen, 55 persen responden menyatakan baik, dan 30 persen responden menyatakan sedang, serta 8 persen menyatakan buruk, sisanya tidak tahu. Sementara itu, terkait isu perekonomian di Jakarta, 41 persen responden menilai keadaan ekonomi Pemprov  DKI lebih baik dibandingkan tahun lalu. Yang juga menarik, mengapa para responden cenderung memilih pasangan Ahok-Djarot karena sudah ada bukti nyata hasil kerjanya.

Namun, dalam kandidat  lain, pasangan Agus-Sylvia bisa menjadi kuda hitam dalam Pilkada DKI 2017. Kini pasangan Agus-Sylvia sudah menempati posisi ke dua menyalip pasangan Anies-Sandiaga dalam survei head-to-head. Pasangan Agus-Sylvia meraih 37,2 persen, sementara pasangan Anies-Sandiaga hanya 34,0 persen. Dari semua itu maka tidak tertutup kemungkinan Pilkada DKI-Jakarta Februari 2017 berlangsung dua putaran.

        Pada putaran ke dua akan terjadi pertarungan antara
         Ahok-Djarot vs Agus-Sylvia 

 

Dalam taktik dan strategi ini jika terjadi dua putaran maka pasangan Ahok-Djarot masih tetap didukung PDI-P, Golkar, NasDem, dan PKPI berhadapan dengan Gerindra, PKS, Partai Demokrat, PPP, PAN, dan PKB. Meski dalam pengambilan nomor urut terasa damai, tapi di luar arena dan di media susial sudah panas Pilkada DKI 2017 ini. Semoga Pilkada yang berlangsung di 101 daerah bisa berlangsung Jurdil, Damai, dan Demokratis (FSS).    

Category: Our Stand

CATAHU 2018

Tidak terasa penghujung tahun 2018 sudah di depan mata dan masuk tahun baru 2019. Lantas apa yang terjadi sepanjang tahun 2018 ini? Dari perkembangan Media Sosial, yang ikut mewarnai politik secara drastis, dari semula strukturalis menjadi populis, dari berorientasi kekuasaan, kini lebih kepada keseharian.

Perubahan itu berimplikasi pada menguatnya representasi dan partisipasi netizen melalui media sosial secara masif. Sementara perkembangan dunia politik baik partai maupun parlemen cenderung stagnan. Kedua institusi itu nyaris tak menorehkan karya monumentalnya, justru banyak kader partai, anggota parlemen, dan kepala daerah terjerat korupsi. Itu persoalan penting 2018, dan bagaimana prospek 2019?

Untuk mengulasnya, PARA Syndicate menggelar DISKUSI PUBLIK sebagai
Catatan Akhir Tahun 2018, dengan tema:

"Riuh Tahun Politik: More Noise than Voice"

Tulisan-tulisan berikut adalah paparan hasil kajian dalam sub topic:

- Partai & Pileg 2019 (FS Swantoro)
- Korupsi (Jusuf Suroso)
- Politik Hukum (Agung Sulistyo)
- Media & Komunikasi (Bekti Waluyo)
- Pilpres 2019 (Ari Nurcahyo)


 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate