Jakarta Election 'candidates' 2017

 

Pendaftaran tiga pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur di KPU DKI-Jakarta mengawali tahapan panjang yang akan berakhir pada kontestasi Pilkada serentak Februari 2017. Tiga pasangan itu adalah Tjahaya Purnama (Ahok) berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, didukung PDI-P, Golkar, Hanura, Nasdem. Kemudian pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylvia Murni, didukung Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PAN. Sementara pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, didukung Partai Gerindra dan PKS.      

 

Wajar bila ada rasa was-was (khawathir) menyertai tahapan panjang pemilihan kepala daerah. Kekhawatiran itu logis, karena selama ini penyelenggara Pilkada di beberapa daerah sering memicu konflik sosial. Pilkada acap kali tidak menyatukan, tapi sekaligus juga “mengoyak” kebersamaan dan kesatuan warga hingga membelahnya. Belum lagi dengan amuk massa yang anarkis hingga merusak fasilitas publik (umum).    

 

Wajar, sangat wajar, apabila ada perasaan khawatir yang menyertai tahapan panjang pilkada. Khawatir karena selama ini penyelenggaraan pilkada di sejumlah daerah sering kali memicu konflik sosial. Pilkada acap kali tidak menyatukan, tetapi mengoyak-ngoyak kesatuan warga dan kemudian membelahnya. Tapi, kekhawatiran itu sirna berganti arapan dan gairah baru. Harapan itu muncul disela-sela pemeriksaan kesehatan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI-Jakarta. 

 

Diantara secara calon itu tidak kelihatan tegang, melainkan malah saling guyon dan bercanda ria hingga selfie dan menjadi viral hingga melegakan karena mencairkan hubungan di antara mereka. Hubungan yang cair antar peserta kontestasi Pilkada DKI ini menjadi titik tolak membangun paradigma baru dalam pemilihan kepala daerah, yakni mirip festival gagasan, taktik dan strategi, rencana serta bukan arena bertempur.

 

"Karena itu Pilkada DKI Jakarta ini
harus menjadi kontestasi yang jujur, adil dan demokratis."

 

Selain itu, partai-partai pengusung calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur punya tanggung jawab untuk menjaga kontestasi Pilkada ini berjalan aman, damai, dan tidak gaduh apalagi konflik fisik. Juga jangan ditarik ke konflik berbau SARA sehingga SARA dijadikan instrumen membangun kekuasaaan (Media Indonesia, 27/9/2016).  

 

Karena itu tidaklah baik dan bisa dianggap kemunduran jika Pilkada DKI-Jakartadan Pilkada lainnya di tanah air, terus ditarik masuk ke isu-isu yang sensitif dan mudah memancing emosi serta konflik dalam masyarakat, baik di perkotaan dan apalagi dipedesaan. Dan, dari pengalaman selama ini (Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden), para penyelenggara pemilu (KPU, KPUD, Bawaslu), berikut partai-partai politik pengusung calon bisa memastikan tidak ada lagi kampanye hitam. 

 

Dengan demikian, Pilkada akan menjadi tenang dan damai hingga politik kita menjadi dewasa dan semuanya sudah dewasa dalam demokrasi. Karena itu penting untuk diperhatikan bahwa kontestasi dalam Pilkada bukan alat untuk memuaskan nafsu mengalahkan lawan politik, melainkan untuk memilih pemimpin (penyelenggara negara) yang terbaik demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat (warga masyarakat). Itu akan menjadi PR terberat bagi para calon geubernur dan calon wakil gubernur serta partai-partai, termasuk pemerintah daerah. Semoga kontestasi Pilkada DKI dan daerah lain sukses (FSS).

Category: Our Stand

CATAHU 2018

Tidak terasa penghujung tahun 2018 sudah di depan mata dan masuk tahun baru 2019. Lantas apa yang terjadi sepanjang tahun 2018 ini? Dari perkembangan Media Sosial, yang ikut mewarnai politik secara drastis, dari semula strukturalis menjadi populis, dari berorientasi kekuasaan, kini lebih kepada keseharian.

Perubahan itu berimplikasi pada menguatnya representasi dan partisipasi netizen melalui media sosial secara masif. Sementara perkembangan dunia politik baik partai maupun parlemen cenderung stagnan. Kedua institusi itu nyaris tak menorehkan karya monumentalnya, justru banyak kader partai, anggota parlemen, dan kepala daerah terjerat korupsi. Itu persoalan penting 2018, dan bagaimana prospek 2019?

Untuk mengulasnya, PARA Syndicate menggelar DISKUSI PUBLIK sebagai
Catatan Akhir Tahun 2018, dengan tema:

"Riuh Tahun Politik: More Noise than Voice"

Tulisan-tulisan berikut adalah paparan hasil kajian dalam sub topic:

- Partai & Pileg 2019 (FS Swantoro)
- Korupsi (Jusuf Suroso)
- Politik Hukum (Agung Sulistyo)
- Media & Komunikasi (Bekti Waluyo)
- Pilpres 2019 (Ari Nurcahyo)


 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate