Sebuah ironi. Sebagai sebuah negara agraris seperti Indonesia tetap memiliki masalah pada pemenuhan daging sapi. Sampai hari ini kekurangan kebutuhan daging dalam negeri yang mencapai 640.000 ton pertahun. Kebutuhan daging impor tersebut banyak dipasok oleh Australia.

Ketergantungan pada daging sapi impor ini masih dimonopoli Australia. Ketika hubungan politik antara Indonesia dengan Australia memanas, Indonesia sadar bahwa perlu penjajakan kerjasama dengan negara lain seperti Selandia Baru dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Mengapa harus impor? Pertama, harga daging impor jauh lebih murah dibandingkan daging dalam negeri. Kedua, pemenuhan kebutuhan daging dalam negeri dengan cara impor akan memudahkan pemerintah mengontrol inflasi karena bagaimanapun juga, ketika harga daging naik akibat kekurangan pasokan, maka turut mendorong harga lainnya meskipun kontribusi kenaikan harga ini kecil. Namun ketergantungan pada daging impor dalam jangka panjang sangat buruk. Sebagai negara agraris produksi sapi seharusnya dapat dipenuhi.

Beberapa alasan mengapa produksi daging sapi seharusnya dapat dipenuhi. Pertama, daya beli masyarakat tani yang rendah. Kondisi ini merangsang petani untuk beternak sapi sebagai diversifikasi produksi pertanian, ketika pemerintah memprioritaskan program ini menjadi program pertanian yang penting. Kedua, ketika produksi daging sapi dapat dipenuhi, maka bukan hanya masalah pengentasan kemiskinan petani yang dapat terselesaikan, namun juga penghematan devisa karena kita tidak perlu membayar daging sapi dengan mata uang asing. (Muhamad Dahlan)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2