Mantan Presiden Republik Indonesia ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengeluh dipersulitmenghadap Presiden Joko Widodo (Jokowi), ketika hendak mengklarifikasi sejumlah persoalan dan akan blak-blakan terkait tuduhan pendanaan aksi damai 4/11/2016 dan aksi makar. Selain itu SBY juga akan mengeluhkan adanya penyadapan telepon pribadinya, saat berbicara dengan Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ma’ruf Amin pada 7 Oktober 2016 (Kompas, 2/2/2017).

Reaksi istana dingin, sedingin cuaca ibu kota Jakarta yang tengah diguyur hujan beberapa hari terakhir secara berturut-turut. Mungkin juga karena sudah terlalu sering menyaksiklan tabiat SBY yang gemar mengeluh. Bahkan ketika masih menjabat sebagai presiden pun ia sering tampil didepan umum hanya untuk menyampaikan keluhan atas berbagai kritikan publik terhadap jalannya penyelenggaraan negara yang timpang, atau membantah berita miring terkait urusan pribadi dan keluarganya.

Sekretaris Kabinet (Sekab) Pramono Anung Wibowo menegaskan, pada dasarnya presiden menerima semua pihak yang ingin bertemu. Namun, lanjut Pramono Anung, pihak yang ingin bertemu harus mengikuti prosedur yang berlaku di istana kepresidenan melalui Menteri Sekrertariat Negara (Kompas, 2/2/2017).

Apabila kita cermati dari jawaban Sekab, keinginan SBY untuk bertemu dengan Presiden Jokowi belum pernah disampaikan secara resmi ke istana. Mungkin keinginan itu pernah disampaikan entah melalui siapa dan dalam rangka apa. Akan tetapi karena sifatnya yang informal hingga pesan itu tidak pernah sampai pada presiden. Kebiasaan buruk mantan pejabat negara di negeri ini acap menyepelekan pejabat penggantinya. Hanya angkat telepon sambil marah-marah minta dilayani. Tapi bisa juga karena post power syndrome, ketidakmampuan untuk melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan egonya. Sulit menerima kenyataan bahwa kini ia tak berkuasa lagi dan sudah kehilangan privelege-privelege yang dulu meninabobokan-nya.

Selama ini SBY dikenal piawai mendramatisir dinamika politik yang tengah terjadi seolah-olah bagian dari upaya untuk mendiskreditkan diri dan keluarganya. Sehingga publik percaya dan menaruh perhatian, membela, dan memberi dukungan. Jangan-jangan keinginann SBY untuk bertemu dengan Presiden Jokowi tak jauh dari upaya mencari perlindungan dari beragam persoalan yang kemungkinan besar menyeret diri dan keluarganya. Sesuatu yang wajar dan manusiawi, yang membuat SBY “kebakaran jenggot” hingga ketakutan sebelum muslihatnya dibongkar. Akan tetapi Presiden Jokowi tak mudah terbuai jebakan kuno seperti itu. Maka dari itu, sebaiknya pak presiden bilang saja; “silahken blak-blakan.” (Jusuf Suroso).

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2