Sampai dengan hari Minggu (13/11/2016), serangkaian protes menggugat kemenangan Donald Trump masih berlangsung, baik dalam bentuk aksi-aksi jalanan maupun lewat petisi yang sudah mencapai hampir dua juta pendukung. Di antara warga AS, banyak pula yang masih tidak percaya bahwa Trump berhasil mengalahkan Clinton yang didukung lebih dari 50 media, bahkan lebih besar dari jumlah media yang mendukung Obama kala itu.

Bagaimana bisa Trump yang kontroversial itu, yang hanya didukung segelintir media, pun dengan pendanaan terbatas, dan juga bukan politisi mapan, bisa memenangi kontestasi itu? Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja tidak bisa tunggal dan definitif. Ada banyak faktor yang saling mempengaruhi di sana. Catatan kecil hari ini, hanya akan fokus membahas satu variabel kemungkinan saja, yakni pada besarnya jumlah para pemegang hak suara yang tidak menggunakan haknya.

Meminjam hasil rangkuman dari  US Election project yang banyak dishare media mainstream dan diviralkan di kanal sosial media, jumlah pemilih hak suara yang tidak menggunakan hak pilihnya, atau dalam hal ini masuk kategori abstantion, mencapai 46,9 persen, lebih tinggi dari jumlah abstantion pada Pemilu-pemilu sebelumnya.  Dari mereka yang datang ke bilik suara dan menggunakan hak pilihnya, 25,6 memilih Clinton, dan 25,5 memilih Trump. Jumlah pemilih populer Clinton memang lebih besar, namun Trump berhasil memenangi pemilihan itu karena memenangi lebih dari 270 electoral college dari total 538 suara.

Catatan ini penting karena kejadian serupa sangat mungkin terjadi dalam Pilkada atau Pemilu di tanah air, di mana angka golput sudah relatif tinggi dan bahkan berkecenderungan meningkat. Karenanya, ini sekaligus dimaksudkan sebagai pengingat bagi pemilik hak suara untuk menggunakan hak tersebut sebaik-baiknya baik dalam ajang Pilkada ataupun Pemilihan Umum agar tidak berujung pada penyesalan sesudahnya. Kata-kata Plato ternyata masih sangat relevan untuk menggarisbawahi pesan perihal pentingnya partisipasi politik ini:
“One of penalties for refusing to participate in politics is that you end up being governed by your inferiors.” (L. Bekti Waluyo)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2