Berita utama surat kabar Koran Tempo edisi Kamis, 10 November 2016, tentang terpilihnya  Donald John Trump menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke 45, mengalahkan Hillary Rodham Clinton dalam pemilihan presiden Selasa, 8/11/2016. Pemberitaan Koran Tempo agak istimewa, dicetak dengan hurup kapital dan judulnya bombastis Dunia Cemas.

Kecemasan dunia dapat dilihat dari sentimen negatif perdagangan pasar modal dan terguncangnya pasar keuangan global, sesaat setelah Trump terpilih. Arus modal keluar dari pasar global mencapai US$ 2,5 trilyun setara dengan Rp.32.795 trilyun. Sejumlah negara yang selama ini menjadi mitra Amerika Serikat di Eropa seperti Jerman, Swedia, Perancis dan sebagainya sangat kawatir dengan kemenangan Trump.

Sementara Presiden Indonesia Joko Widodo menyatakan siap bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat yang baru. Pernyataan kurang lebih sama juga disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin yang siap melanjutkan dialog atas dasar persamaan dan saling menghormati (Kompas, 10/11/2016).

Kekawatiran dunia itu bukan tanpa alasan, terkait sejumlah pernyataan Trump yang acap kontroversial dan berbau rasis. Misalnya, tentang kebijakan larangan bagi muslim masuk ke Amerika Serikat dengan alasan ancaman keamanan dan terorisme. Trump juga menyatakan akan mendirikan tembok pembatas dengan tetangganya Mexico untuk mencegah penyelundupan obat bius dan narkotika. Pendek kata setiap kali tampil didepan umum Tramp memperlihatkan gaya arogan dan ucapannya kontroversial.

Gaya arogan Trump ternyata ada kemiripan dengan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok). Bedanya, Trump ada di negara liberal yang masyarakatnya rasional dan dapat menghargaan perbedaan. Sikap arogansi dan pernyataan kontroversinya malah berbuah manis mendapat dukungan hingga ia terpilih menjadi presiden. Sementara Ahok ada di belahan “dunia lain” yang masyarakatnya masih jauh dari rasional dan belum bisa menerima perbedaan. Meskipun masyarakat Jakarta yang memusuhi Ahok, notabene terpelajar tapi faktanya seperti kegaduhan politik demonstrasi 4 November 2016 dan beragam celotehan di media sosial.

Tudingan pada Ahok menistakan kitab suci Islam, adalah satu hal yang kemungkinan kecil terjadi di Amerika Serikat sana. Meskipun kontroversi pernyataan Trump berbau rasis dan penistaan terhadap komunitas tertentu. Perbedaan lainnya, karena Ahok adalah minoritas, menyandang dua “dosa asal,” keturunan Tionghoa dan non muslim. Tapi musuh Ahok sangat kawatir dan cemas, tak mampu menandingi popularitas Ahok yang arogan itu. Sekalipun masyarakat Jakarta mayoritas muslim.

Itu pula sebabnya, Ahok harus dibenturkan dengan arogansi dan kontroversi ucapannya didepan publik utamanya yang yang menyentuh masalah sensitif. Memang tidak ada pilihan lain bagi lawan politik Ahok yang miskin ide dan gagasan. Dan mereka yakin, hanya dengan cara itu dapat menyingkirkan Ahok dalam pemilihan gubernur 15 Pebruari 2017 nanti. Itu pun dengan catatan apabila bisa memaksa Ahok mengundurkan diri, batal, atau dibatalkan pencalonannya menjadi kandidat gubernur itu. Sebab, proses hukum seperti awal tuntutan mereka tak menjamin dapat menurunkan popularitas, apalagi menggugurkan pencalonan Ahok. (Jusuf Suroso)

Category: Scrutiny 2015-2017