Kemenangan yang mengejutkan! Demikian kebanyakan respon media, setelah hasil perhitungan menunjukkan unggulnya suara untuk Donald Trump atas rivalnya Hillary Clinton.  Kekagetan itu tidak hanya terjadi di Amerika Serikat saja, namun juga di banyak negara lain, termasuk Indonesia.  Sejumlah pihak yang sebelumnya sudah membaca tanda-tanda dan kecenderungan akan terjadinya anomali dalam hasil pemilihan ini, akhirnya tetap terkaget-kaget juga. Bahkan, the Economist Intelligence Unit (EIU), menyebut kemenangan Trump ini sebagai salah satu dari 10 resiko tertinggi yang dihadapi dunia.

                  Ungkapan keterkejutan itu kemudian disusul oleh tiga pertanyaan yang sepertinya cukup mewakili common sense dan rasa penasaran publik, yakni: pertama, bagaimana Trump bisa menang?  Pertanyakan kedua, bagaimana respon Hillary Clinton dan pendukung-pendukungnya? Dan yang ketika, Apa yang akan terjadi nanti di bawah kepemimpinan Trump?

                  Jika melihat dari track record-nya, penampilannya, juga perkataan-perkataan hingga pilihan diksinya saat kampanye, Trump bukanlah sosok yang terlihat mapan dan stabil dalam hal kepribadian.  Bahkan kontroversial . Tidak seperti Hillary yang kelihatan matang dan stabil karena memang telah banyak makan asam-garam dunia perpolitikan.  Begitu juga dengan sikapnya terhadap globalisasi, yang jika dibandingkan dengan sikap Hillary, justru mengindikasikan bakal membawa kemunduran. Bahwa Trump tidak berada dalam lingkaran koneksi Bilderberg,  adalah variabel lain yang dalam hitung-hitungan di atas kertas turut melemahkan posisinya. 

Trump dan Halaman Depan Media

                  Terkait dengan pertanyaan-pertanyaan itu, New York Times dalam sebuah artikel onlinennya (9/11) yang berjudul, How Trump Won the 2016 Presidential Elections,  mengulas tentang basis-basis pemenangan Trump. Sementara, The Guardian online, pada hari yang sama, mengangkat judul, How Trump Won Election: Volatility and a Common Touch. Media ini menggaris-bawahi ampuhnya slogan Trump, yang diadopsi dan diolah dari slogan Ronald Reagan, Make America Great Again. Slogan itu mengemas optimisme sekaligus pesimisme, dan ketakutan sekaligus harapan. Janji untuk mengembalikan kejayaan Amerika itu terasa ‘mak jleb’ menyentuh hati banyak orang. Di negeri yang dikenal dengan semangat patriotismenya itu, slogan Make Amercia Great Again ternyata sangat efektif dan pesannya secara emosional terasa sangat kuat, bahkan ketika dihadapkan dengan slogan yang diusung Hillary Clinto, Stronger Together.

                  Di tanah air, kabar kemenangan Trump pun mendapatkan perhatian yang besar dari media hari ini (10/11),.  Di bawah pengantar judul Berita Utama “Trump Presiden As,” Koran Tempo menuliskan “Dunia Cemas” dengan font besar berwarna merah. Media ini menggarisbawahi bahwa ternyata ujaran kebencian yang sering dilontarkan Trump selama kampanye itu tidak membuat publik berpaling.  Namun bahwa kecemasan terkait ucapan-ucapan rasisnya, kemungkinan kontroversialnya kebijakan-kebijakan ekonomi yang akan diambil, juga sikapnya terkait migrant Muslim yang masuk ke AS, tetaplah menjadi catatan tersendiri.

                  Semetara Rakyat Merdeka menurunkan judul “11/9 Tragedo, 9/11 Ngeri..” untuk headlinenya. Judul ini senada dengan meme yang banyak beredar di media sosial sejak kemarin, yang berbunyi: 11/9 Terrorist attacks American, 9/11 American commits suicide. Koran ini juga melaporkan bagaimana harga saham di penjuru dunia melorot tajam pasca-penghitungan cepat. Sedangkan The Jakarta Post nampaknya membaca adanya suasana yang tidak menentu di tengah masyarakat menyusul kemenangan Trump ini, dan menghadirkannya dalam berita utama yang berjudul, “Trump win plunges world in uncertainty.” Pilihan judul itu rupanya juga diambil dari pertanyaan Presiden Franscois Hyollande  yang menyatakan dirinya ingin segera bisa menemui Trump guna memperjelas sikapnya dalam urusan luar negeri.  Berbeda dengan media-media itu, untuk peristiwa ini, Kompas memilih menampilkan judul berita utamanya seara lebih positif dan optimis. “Trump janji satukan bangsa,” dengan sub-judul, “Hillary menerima kekalahan dan mengajak rakyat melihat ke depan.” Kebesaran hati Hillary dalam menerima hasil dari pesta demokrasi ini bisa dijadikan catatan penting yang lain bagi kita.


Era Post-Truth Politics & Pertarungan Narasi

                  Sebagai catatan penutup, jika mengamati jalannya kampanye, apa yang diperhitungkan dari kedua politisi ternyata bukanlah tentang fakta-fakta, data-data atau kebenaran-kebenaran yang mereka sampaikan, melainkan pada kesesuaian antara apa yang publik harapan dengan apa yang mereka katakan.

                  Sepertinya, kita sekarang ini mulai benar-benar masuk dalam era post-truth politics, di mana kebenaran terkungkung dalam lautan informasi yang beredar, yang dalam peredarannya itu juga dengan mudah terdistorsi dan bahkan dimanipulasi. Di sini, orang-orang bebas memilih informasi, termasuk untuk hanya membaca apa yang mereka sukai saja. Sebuah kondisi di mana seolah-olah di sekitar kita  ini ada dunia informasi atau pabrik informasi yang paralel dan dapat diakses dengan begitu mudahnya.

                  Dalam kondisi seperti ini, apa yang mampu menyentuh hati, rasa dan emosi, sangat berpotensi lebih kuat, ketimbang  apa yang masuk dan harus diolah dalam nalar atau pikiran. Memang beresiko terjadi sejumlah inkoherensi minor atas pernyataan-pernyataan yang saling berlawanan,  namun itu semua tetaplah nomer dua jika dibandingkan dengan kekuatan koherensi dari apa yang bisa ditawarkan dan memang sesuai dengan harapan publik.

      Dalam proses demokrasi yang baru saja berlalu, dengan slogan, Make America Great Again, Trump dapat dengan leluasa membuat narasi-narasi tentang bagaimana dunia bekerja selama ini, tentang bagaimana program ekonomi oleh inkumben telah berlangsung, yang intinya adalah untuk membangun persepsi bahwa dirinya bisa diharapkan atau diandalkan untuk nantinya mengatasi permasalahan-permasalahan itu. Sehingga nantinya benar-benar mampu untuk menjadi besar kembali, to be great again. Seandainya Hillary Clinton juga menempuh cara itu, yakni untuk lebih banyak menyentuh hati, rasa dan emosi publik, ketimbang  menghabiskan waktu untuk memaparkan data-data atau mengoreksi ini itu, sangat mungkin hasilnya akan lain.  (L.Bekti Waluyo)


Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2