Kabar-kabari Koran Tempo edisi Kamis, 18 Oktober 2016 mantan Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Kabinet Indonesia Bersatu II pimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (2009-2014), Dahlan Iskan (DI) diduga ada dalam pusaran korupsi BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) Provinsi Jakawa Timur (Koran Tempo, 18/10/2016).

Sekurangnya, DI yang selama ini dikenal publik sebagai pemilik Jawa Pos Group dan ratusan perusahaan lainnya telah menjalani pemeriksaan secara maraton selama tiga hari berturut-turut sejak Senin 15 Oktober hingga Rabo, 17 Oktober 2016. Meski status DI sebagai saksi  Senin 24 Oktober 2016 pekan depan masih akan diperiksa lagi.

DI ketika masih menjabat sebagai Direktur Utama PLN (Perusahaan Listrik Negara) ada dalam pusaran kasus korupsi pembangunan 21 Gardu Induk di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat pada periode 2011-2013 senilai Rp.1,063 trilyun. Namun Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan permohonan praperadilan DI, dan perintah penyidikan tertanggal 5 Juli 2015 yang diterbitkan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dinyatakan tidak sah. Maka loloslah DI dari jerat hukum yang kemungkinan bakal menjebloskan “wartawan pengusaha” itu dalam penjara sesuai putusan sidang praperadilan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang di bacakan Hakim tunggal Lendriaty Janis pada tanggal 4/8/2015.

Dalam dugaan korupsi kasus pelepasan aset-aset milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur, ketika masih menjabat sebagai Dirut PT. Panca Wira Usaha, nampaknya DI sulit mengelak dari tuduhan penyimpangan atau pengabaian prosedure dan mekanisme sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Itu sebabnya dalam sekejap aset-aset milik pemerintah provinsi itu beralih fungsi menjadi mall, pertokoan, dan hunian mewah.

Publik mengenal DI sebagai insan pers pemilik ratusan perusahaan media yang tergabung dalam Jawa Pos Group, Dirut PLN yang kreatif, Menteri BUMN, meski gagal mewujudkan mobil murah ketika uji coba nyaris mencelakakan dirinya. Penulis banyak buku bertema motivasi dan inspiratif yang mencitrakan dirinya egaliter, merakyat, rendah hati, dan dermawan. Mungkinkan DI korupsi, dibalik citranya yang sempat menghipnotis publik hingga DI terpilih sebagai nominator utama kandidat presiden yang bakal diusung Partai Demokrat 2014 lalu.

Semua serba mungkin. Ketika bungkus atau chasing dan isinya selalu beda. Beda fungsi dan peran dan aplikasinya. Dengan kata lain tidak selalu orang yang merakyat dan dermawan tidak menindasi dengan cara-cara yang sunyi. Contoh sudah banyak, kurang santun dan lembut hati seperti apa yang diperankan mantan Ketua DPD Irman Gusman, mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, semua menjadi pesakitan karena korupsi.

Bagaikan musang berbulu domba, juga berlaku bagi DI dan siapa saja. Hanya saja karena DI adalah pemilik ratusan media yang tergabung dalam Jawa Pos Group, bagaikan “monster” membuat gentar aparat penegak hukum menggiringnya DI ke penjara. Boleh jadi karena tekanan “monster” Jawa Pos Group pula yang membuat jajaran pemprop Jatim sulit menolak ambisi DI untuk menguasai aset-aset Pemda Jatim, meski dengan cara-cara melawan hukum. (Jusuf Suroso).

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2