“Bersatu (sementara) demi Mosul,” judul tulisan Koran Tempo di rubrik Internasional (19/10) membuka catatan ini,  menggarisbawahi tengah berjalannya operasi militer terbesar di Irak sejak 2003, kali ini dengan tujuan untuk merebut kembali Mosul dari cengkeraman ISIS.  Dengan menuliskan kata sementara dalam tanda kurung, Koran Tempo nampaknya membaca bahwa kelompok-kelompok yang sekarang menyatu itu sangat mungkin akan kembali bertikai setelah urusan Mosul selesai. Apalagi jika, karena masalah pengaturan posisi atau penempatan, kemudian terjadi serangan salah sasaran.

Hingga hari kedua (18/10), serangan besar-besaran ke Mosul telah menunjukkan banyak kemajuan.  Banyak desa di pinggiran Mosul sudah berhasil direbut. “20 Desa Sekitar Mosul Direbut,” Kompas (19/10) mennggarisbawahi kabar itu dalam judul besar rubrik Internasional dengan mengacu pada pemberitaan CNN.  Saat ini, diperkirakan masih ada sekitar 8000 personil ISIS di Mosul, dengan 1200 di antaranya adalah satuan elit Jeish al-Asra. Diyakini mereka memusatkan pertahanan di Barat sungai Tigris dan memperkuat pertahanannya dengan membangun lubang-lubang pertahanan, menyebar ranjau serta menambah pos-pos pemeriksaan di sekitar kota Mosul.

Harapannya, perang di Mosul ini segera usai tanpa membawa jatuhnya banyak korban terutama dari kalangan sipil. Sudah terlalu banyak penderitaan dan kesedihan dari konflik yang berlarut ini. Sejak 2011 lalu, konflik ini telah setidaknya mengambil 200 ribu jiwa, sementara sekitar empat juta warga terpaksa melarikan diri mengadu nasib ke berbagai negara lain. Sementara dalam artikel yang lain di rubrik yang sama, Kompas mencatat pernyataan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, bahwa negara tetangga itu tengah memperketat penjagaan di setiap perbatasan darat, bandara dan pelabuhan untuk mengantisipasi anggota kelompok radikal yang akan pulang kampung.


Proxy War dan Psywar PD III

Atas serangan besar-besaran di Mosul, Menteri Pertahanan Irak, Khaled al-Oeidi, dan juga Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, memperkirakan banyak pemimpin ISIS yang melarikan diri ke Suriah. Jika benar, itu kembali memperumit permasalahan. Tentang konflik yang berlarut-larut ini, tentu saja tidak bisa dilepaskan dari berlangsungnya proxy war antara AS dan Rusia di Suria. Bahkan, Presiden Suriah Bashar al-Assad sendiri menganggap bahwa perang sipil di Suria sekarang ini telah menjadi sebuah panggung teater antara Moskow dan Washington, sebuah konfrontasi global yang menggunakan terorisme sebagai ‘trump card’ atau kartu trufnya.

Dalam konteks proxy war, maksud dari redaksional tulisan Koran Tempo di atas, bahwa mereka yang semula saling berkonflik kemudian bersatu untuk sementara demi Mosul, menjadi lebih jelas lagi. Walau AS dan Rusia sama-sama mengklaim turun tangan memerangi ISIS, namun posisi mereka sangat berbeda. AS dan sekutunya berpandangan bahwa tidak ada lagi ruang untuk Presiden Bashar. “Syrian president Bashar al-Assad has no future in a post-civil war Syria,” demikian kata David Cameron, seperti ditulis portal berita Independent (6/10).  Sementara dari pihak Rusia, mereka justru mensyaratkan agar dalam penumpasan ISIS ini pemerintahan Al-Assad tidak boleh dilemahkan.

Berlarutnya konflik di tengah gesekan kepentingan yang berbeda itu kini mulai memanaskan sumbu-sumbu hubungan kedua negara. Bisa dikatakan, ketegangan yang terjadi antara Rusia dan AS hari ini telah melampaui level perang dingin yang sebelumnya.  Antara lain, itu ditandai dengan mundurnya AS dari pembicaraan Suriah, menyusul tudingan bahwa pihak Rusia telah melakukan peretasan. Sementara, Rusia telah menangguhkan program penelitian bersama dengan AS untuk proyek nuklir.

Sebagai bagian dari psywar, melalui pemberitaan media, Rusia memperlihatkan bagaimana pihaknya telah menyiapkan bunker-bunker perlindungan dan topeng gas bagi warganya sebagai antisipasi jika terjadi perang, dan bahkan melakukan simulasi perang nuklir dengan melibatkan 40 juta orang. Tak ketinggalan,  AS pun mengumumkan ditingkatkannya system pertahanan menjadi Defcon level 3 (cek website Defcon Warning System). Kekhawatiran akan pecahnya Perang Dunia III itu  mendapatkan porsi perhatian media yang cukup besar di luar sana. Kelompok peretas legendaris Anonymous, melalui unggahan videonya di media sosial, turut memanaskan suasana dengan mengatakan bahwa Pentagon percaya PD III kian dekat, dan bahwa para petinggi Departemen Keamanan AS juga telah memperkirakan itu. (L.Bekti Waluyo)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2