Jumat (14/10), ketika banyak warga Jakarta tengah memantau pemberitaan terkait jalannya demo tolak Ahok, kejutan lain justru datang dari Istana. Siang itu, Presiden Jokowi melantik Ignasius Jonan, yang Juli lalu direshuffle dari posisi Menhub, menjadi menteri ESDM, dan Arcandra Tahar, yang sempat menjadi menteri selama 21 hari dan lalu dicopot karena kasus kewarganegaraan ganda, sebagai Wakil Menteri ESDM.

Kembali dipasangnya Jonan dan Arcandra itupun segera direspon dan dipersepsikan beragam, termasuk kecurigaan adanya kesengajaan untuk memecah perhatian publik dari demo yang menuntut agar Ahok diproses hukum atas tuduhan pelecehan agama.  Beredar pula kecurigaan, bahkan tuduhan, bahwa keduanya kembali masuk dalam kabinet untuk mengamankan kepentingan asing di sektor ini. Alasannya, pertama bahwa Jonan tidak punya latar belakang dan kompetensi memadai di sektor ini, dan kedua bahwa posisi wakil menteri untuk Arcandra patut dipertanyakan karena tidak ada di kementerian lain. Bahkan ketidakhadiran Jusuf Kalla dalam pelantikan itupun menjadi bagian dari yang dipertanyakan, walaupun akhirnya diklarifikasi bahwa Jusuf Kalla sudah diajak bicara sebelumnya dan memang sedang dalam penugasan lain.

Kegaduhan opini seperti itu, terutama di media online, bisa dimengerti. Bagaimanapun, kementerian ESDM sangatlah strategis, dan selama ini sudah menjadi rahasia umum pula bahwa di sana ada banyak potensi perebutan kepentingan yang melibatkan banyak sosok penting dan berpengaruh. Dan jawaban atas kemungkinan-kemungkinan pertanyaan itu ternyata sudah terlebih dulu diantisipasi oleh Presiden Joko Widodo, dan disampaikan pada media usai upacara pelantikan. “Ini isu manajemen, jangan ditarik ke isu personal atau politik,” kata Presiden, sebagaimana dikutip banyak media. “Saya yakin keduanya figur yang tepat, yang berani, yang punya kompetensi untuk melakukan reformasi besar-besaran di ESDM.”

Ignasisus Jonan, walaupun tidak berlatar belakang terkait, namun dia dipandang mampu untuk mengawal reformasi dalam tata kelola ESDM, sementara Arcandra dengan keahliannya diharapkan mampu menyempurnakan kinerja di bidang minyak dan gas bumi. Tentang pelantikan yang dilakukan bertepatan dengan jalannya demo besar di Jakarta, ini bisa juga dibaca sebagai pesan non-verbal bahwa pemerintah tidak terusik dengan kegaduhan itu dan tetap bekerja seperti biasa.  (L. Bekti Waluyo)

  

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2