Hari terpenting dalam sejarah politik Britania Raya (United Kingdom/UK) sejak Perang Dunia II, UK telah memutuskan untuk melepaskan diri dari keanggotaan Uni Eropa (European Union/EU) dalam sebuah referendum tanggal 23 Juni, yang melibatkan seluruh negara dalam wilayah kedaulatannya; Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales -dikenal dengan istilah British Exit (Brexit).

Respon negatif atas hasil referendum yang ditunjukkan oleh Skotlandia dan Irlandia Utara yang memilih untuk tetap bersama Uni Eropa justru berbeda dengan beberapa negara anggota EU lainnya. Tampak dari pernyataan Menlu Polandia Witold Waszczykowski yang meminta agar masa depan integrasi Eropa dipertimbangkan kembali, dengan menyindir pada sejarah awal integrasi politik Eropa poros Perancis-Jerman yang dianggap telah usang.

Demikian pula pemimpin partai sayap kanan Perancis Front Nasional, Marine Le Pen yang mengaku menyambut baik hasil referendum serta menyerukan referendum yang sama di Perancis dan di negara-negara EU. “Victoire de la liberté!”, serunya dalam akun twitter. Seruan senada yang juga dilontarkan oleh beberapa tokoh negara Eropa anggota EU lainnya.

 

Brexit Bukanlah Akhir (Ekonomi) Dunia

Tidak mudah menilai dengan jitu dampak dari Brexit atas perdagangan dan ekonomi nasional. Efek domino masih mungkin terjadi dalam rentang yang panjang, seperti risiko politik yang selalu dapat memengaruhi perekonomian. Implikasi jangka panjang meskipun terbatas namun dapat terjadi pada sektor keuangan dan pasar modal.

Beranggotakan 28 negara Eropa dengan GDP terbesar di dunia, EU adalah kemitraan ekonomi dan politik yang memegang kendali besar dan dapat memengaruhi perekonomian global. Dengan keluarnya UK, sejumlah jalur transmisi dapat memengaruhi emerging market seperti Indonesia, meskipun volume ekspor-impor Indonesia dengan UK tidak terlalu tinggi. Dalam framing yang lebih luas tampak bahwa dampak Brexit terhadap kinerja ekonomi negara-negara maju Eropa lainnya, dan kemungkinan negara-negara Eropa lain mengikuti jejak UK untuk referendum (seperti diutarakan sebelumnya) memiliki risiko pelambatan ekonomi ke depan. Pelambatan ekonomi ini berdampak langsung pada sektor perdagangan Indonesia-Zona Eropa yang relatif lebih besar.

Namun cukup melegakan beberapa catatan yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga analis ekonomi seperti perusahaan konsultan dan riset ekonomi independen Capital Economics yang lebih optimis menyikapi fenomena Brexit. Mereka memberi catatan penting bahwa, “Brexit is not a disaster for the world economy - Brexit bukanlah bencana bagi ekonomi dunia”. Hal tersebut dimungkinkan karena meskipun di awal pasca-Brexit akan muncul ketidaknyamanan dengan adanya beberapa gejolak terutama dalam kerjasama dengan UK, namun negara-negara pelaku pada akhirnya akan bergerak menyesuaikan. Perjanjian perdagangan akan dicapai dengan melakukan penyesuaian dan pengaturan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Tentu kita berharap yang sama dengan Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang mengatakan bahwa menurut penilaian bank sentral, meskipun hasil referendum akan berdampak pada ekonomi global, dampak pada negara-negara berkembang seperti Indonesia akan terbatas. Ekonomi makro diperkirakan akan tetap tangguh, paket kebijakan ekonomi dan moneter BI akan lebih memperkuat pertumbuhan ekonomi negara, kecilnya volume eskpor ke UK yang hanya 0,9 persen; hal-hal tersebut akan menahan gelombang Brexit ke Indonesia sehingga dampaknya tidak akan terlalu signifikan.

Optimistis juga terjadi pada pasar saham dan obligasi, dimana sentimen pasar global berimbas kemana-mana, namun dampaknya hanya akan signifikan terhadap negara-negara maju. Sisi positifnya adalah investor global bergeser dari obligasi UK ke pasar aman lainnya, karena strategi investor global saat ini cenderung mengalihkan portofolio aset keuangan mereka baik dari UK ataupun Eropa lainnya ke emerging market seperti Indonesia. 

Akhirnya, ‘amicable divorce’ UK-EU di ruang perdagangan dan keuangan tidak akan terjadi, ketegangan politikpun sangat mungkin berkembang menjadi gesekan yang memanas, namun ini bukanlah akhir dari rumah-tangga-dunia. Kekuatan ekonomi terbesar hingga saat ini jelas masih dipegang oleh Amerika, serta beranjak jaringan pasar dunia mulai dikuasai oleh China dan India. 

 

Manuver ASEAN Menyalip di Tikungan

Terlepas dari dampak yang mungkin timbul, Indonesia semestinya dapat belajar dari kondisi keretakan masyarakat ekonomi/politik Eropa, untuk lebih memerhatikan kepentingan bersama dalam kerjasama yang saling menguntungkan dengan negara-negara di ASEAN, terutama dengan berlangsungnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Berbeda dengan Uni Eropa, MEA bercita-cita dalam integrasi ekonomi dan keuangan tanpa serikat moneter atau integrasi politik. Justru dengan adanya kegalauan ekonomi serta politik pasca-Brexit, penguatan ekonomi regional ASEAN mendapat peluang yang lebih cerah.

Ingat! Dengan lebih dari 600 juta orang, potensi pasar ASEAN lebih besar dari Uni Eropa atau Amerika Utara (ASEAN Integration and the Private Sector, ADB Vice-President Stephen Groff, Berlin 2014).

Indonesia sebagai emerging market harus dapat mengambil kesempatan dan mengejar ketinggalan. PARA Syndicate mencatat, tanpa adanya fenomena Brexit sekalipun, Indonesia masih memiliki segudang pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menghadapi MEA yang telah berjalan (MEA Sebentar Lagi Kok Gaungnya Sepi, L. Bekti Waluyo, Scrutiny 2015) Infrastruktur dan tenaga ahli/terampil adalah aspek yang paling mendapat sorotan, karena infrastruktur yang terbangun akan meningkatkan nilai jaringan produksi baik rantai yang telah ada maupun yang baru.

Jika ASEAN dapat disebut sebagai salah satu (negara) pelaku ekonomi, itu akan menjadi yang terbesar ketujuh di dunia dengan produk domestik bruto gabungan sebesar $2,4 triliun pada 2013. Ini bisa menjadi terbesar keempat pada tahun 2050 jika tren pertumbuhan terus berlanjut. Asian Development Bank dalam publikasi Juli 2014 menggambarkan “economic size” memberikan keuntungan yang signifikan dalam mempercepat pertumbuhan dan mendorong pembangunan. Ada yang masih meragukan Indonesia yang “kaya dan besar”?

Dengan memperkenalkan reformasi struktural secara nasional serta mengambil tindakan berani  dalam scope regional akan memperdalam integrasi ekonomi, dan menjadi pesaing yang layak diperhitungkan bagi negara-negara Uni Eropa, Asia, maupun Amerika. Jadi, untuk apa dipusingkan dengan keluarnya Great Britain dari European Union, jika Indonesia dengan ASEAN Economic Community-nya menjadi ‘ekonomi’ yang akan membuat Eropa dan Amerika pusing kepala?
(Ad Agung)

Category: Scrutiny 2015-2017