Kapolri Tito Karnavian - Hoegeng

Dimulainya fit and proper test atas calon Kapolri Komjen Tito Karnavian mendapat porsi perhatian yang cukup besar dari sejumlah media nasional hari ini (22/6). Rakyat Merdeka membuka artikel utamanya  yang berjudul “Tito, Polisi ½ Dewa” dengan pujian pada Tito sebagai calon Kapolri yang luar biasa, merujuk pada hasil penelusuran rekam jejak oleh Komisi III DPR. Clear and clean, demikian hasil penelusuran jejak itu. Tak ada noda Tito di KPK, PPATK maupun di Kompolnas. 

Dalam sebuah artikel di rubrik Nasional-nya,  Koran Tempo juga menyoroti temuan dari penelusuran rekam jejak itu, “PPATK dan KPK Menilai Tito Bersih”.  Walau menurut UU No. 2 tahun 2002 pergantian Kapolri memang merupakan hak prerogatif presiden (baca: FS Swantoro, Fit and Proper Test Tito sebagai Kandidat Polri), namun  hasil penilaian yang baik tentu saja sangat penting untuk meningkatkan level kepercayaan publik, juga untuk menguatkan kredibilitas serta reputasinya,  termasuk dalam internal kepolisian sendiri. 

Tidak adanya kegaduhan terkait sosok calon Kapolri yang diajukan secara tunggal oleh Presiden Jokowi kali ini saja sudah cukup melegakan, setidaknya itu membuka pintu untuk membangun kepercayaan.  Di kalangan DPR,  yang biasanya terbelah, sejauh ini hampir tidak ada suara miring. Kalaupun ada, hanya bersifat minor saja. Bahkan PDIP yang semula banyak diprediksi akan mempersalahkannya justru bersikap oke-oke saja dan menerima sosok Tito sebagai tokoh Polri yang netral.  Dalam internal kepolisian,  tokoh-tokoh kepolisian pun sudah menyatakan sikap untuk menerima dan mendukung.  “Pak Tito memang pantas menjadi Kapolri,” kata Budi Waseso seperti ditulis Koran Tempo dalam berita utamanya Jumat lalu (17/6) yang berjudul Para Jenderal Bintang Tiga Dukung Tito.  Bahkan Budi Gunawan (BG), yang namanya banyak disebut-sebut sebagai calon kuat Kapolri pun telah menyatakan mendukung. 

Menyimak dinamika hingga hari ini, nampaknya pergantian Kapolri akan berlangsung dengan lancar. Yang dinantikan selanjutnya adalah kinerja Kapolri baru nanti dalam memenuhi  harapan untuk masyarakat dan dalam menjawab tantangan zaman. Kompas (22/6), dalam sebuah artikelnya di halaman pertama, menuliskan tentang harapan ini. “Pergantian Kapolri: Polisi yang Dicintai Publik jadi Harapan,” tulis harian ini, menggarisbawahi bahwa tantangan utama Kapolri baru nanti adalah untuk memenuhi harapan itu, yakni dengan  menjadikan polisi sebagai institusi yang dicintai dan mampu membawa rasa aman masyarakat. 

Sebagai catatan bersama, berdasarkan  Indeks  Tata  Kelola Polri  yang dikeluarkan oleh kepolisian dan kemitraan pada tahun 2015, dari 31 Kepolsiaan Derah/Polda yang diteliti, tak ada satu pun yang mencapai nilai sangat baik dalam menjalankan tata kelola kepolisian. Dengan tujuh indikator yang digunakan (kompetisi, respons, perilaku, transparansi, keadilan, efektivitas dan akuntabilitas),  hanya 5 Polda saja yang mendapatkan nilai cenderung baik,  sedangkan 24  lagi dalam kategori sedang, dan 2  lainnya bahkan cenderung buruk. Sementara dalam menjalankan fungsi perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat, integritas kepolisian tergolong rendah, di mana 27 dari 31 Polda yang diteliti dipersepsikan masyarakat memiliki integritas polisi lalu lintas di urutan bawah. Masalah lainya yang diharapkan bisa segera diatasi adalah  kompetensi dan keahlian yang tak memenuhi tuntutan dalam melayani masyarakat. Akankah Kapolri baru nantinya mampu membawa kepolisian untuk melakukan berbagai perbaikan internalnya? Melihat hasil penelusuran rekam jejak Tito, harapan itu ada. (L. Bekti Waluyo)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2