Selama tahun 2016 hingga tanggal  21 Juni,  menurut informasi dan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah terjadi sebanyak 1.053 kejadian bencana di tanah air, yang menyebabkan 157 orang meninggal dunia dan lebih dari 1,7 juta jiwa menderita luka dan mengungsi, serta ratusan ribu rumah rusak akibat bencana. Dari jumah itu bencana banjir sebanyak 429 kejadina puting beliung 310 kejadian, tanah longsor 255 kejadian dan sebagainya (Tempo.co, 22/5/2017).     

Untuk sekedar contoh, hujan deras yang melanda di beberapa daerah  kemudian tanah longsor, banjir dan korban jiwa merupakan mata rantai kejadian yang terus terulang di tanah air. Begitu sering hingga tidak dapat lagi dianggap musibah semata. Para ahli di bidang klimatologi dan penanggulangan kita pasti paham faktor-faktor penyebab bencana tersebut. Bahkan fakta-fakta itu telah terpetakan dan terinformasikan dari pusat ke daerah. 

Data terakhir menunjukkan ada 4 orang meninggal di Sangihe dan 41 orang di Purworedjo dan Kebumen. Nyaris sejak 3 Januari hingga 21 Juni 2016, ada 28 kejadian bencana melanda Indonesia (Kompas, 22/6/2016). Hingga kini pencarian korban hilang masih terus dilakukan Tim SAR gabungan BPBD, dibantu unsur TNI-Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD, Rapi, Orari, Senkom Polri, Sarda, Pramuka, MDMC, fatayat, Ukhuwah Sescue NGO, relawan, dan unsurm asyarakat. Meski semua itu dilakukan secara manual akibat sulitnya medan membuat tidak bisa untuk memasukkan alat-alat berat ke lokasi kejafian.  Bukan hanya itu, hingga kini  penanganan darurat masih dilakukan BPBD dan instansi terakit.

BNPB juga menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan hati-hati dalam menyikapi berbagai bencana di tanah air yang membahayakan jiwa. Saat mengadakan konfrensi pers, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, banyaknya bencana karena perubahan iklim. Cuaca dan musim menjadi semakin tiak menentu, hingga sulit diprediksi. Curah hujan dengan intensitas tinggi semakin sering terjadi di banyak daerah di tanah air.   Menurutnya, hampir 95 persen bencana alam di Indonesia, akibat  bencana Hidrometeorologi, yakni bencana yang dipengaruhi faktor cuaca dan iklim. 

Menjadi ironis, karena setiap pemerintah daerah telah memiliki peta rawan tanah longsor, yang seharusnya bisa menjadi pagar dari dampak buruk bencana alam.  Korban jiwa bisa dihindari manakala pemda-pemda menggunakan data tersebut sbagai acuan untuk penataan ruang . Dalam suatu daerah yang punya potensi terjadi bencana alam sangat tinggi (riskan) relokasi harusnya menjadi solusi awal, untuk menghindari puluhan jiwadan nyawa melayang. Disinilah kajian dari berbagai pihak, baik institusi pemerintah maupun institusi swasta, 

Model seperti itu yang telah diterapkan dan dipratekkan berbagai negara lain yang akrab dengan bencana seperti di jepang, China dan sebagainya. Hal itu pula yang sudah sejak lama dilakukan Indonesia. Ibarat dua sisi dalam satu mata uang dari rahasia dan keunikan alam. Meminjam istilahnya Media Indonesia, kita menjadi negara yang siaga bencana, bukan pasrah bencana, hingga berjaga-jagah dengan berbagai bencana  (FS Swantoro). 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2