Kapolri Tito Karnavian - HoegengBerita media cetak, radio, televisi, dan media sosial edisi Kamis, 16 Juni 2016 serentak mengabarkan apresiasi berbagai kalangan (politisi, pengamat, akademisi, dan masyarakat) atas keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengusulkan Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Tito Karnavian (51) menjadi calon tunggal Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri) kepada DPR. Komjen Tito akan menggantikan Kapolri Komjen Badrodin Haiti yang akan memasuki masa pensiun akhir Juli 2016 (Kompas, 16/6/2016).

Langkah Presiden Jokowi ini menjadi terapy untuk mengakhiri ketidakpastian terkait masalah pergantian Kapolri acap menimbulkan kegaduhan politik, seperti yang terjadi awal 2015 lalu. Waktu itu Presiden Jokowi mengajukan nama Komjen Budi Gunawan, yang tidak direkomendasi  Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) karena masalah hukum dan penolakan publik. Bahkan KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka terkait kepemilikan “rekening gendut.” Namun DPR kurang dari 24 jam menyetujui usul presiden dan ngotot agar presiden segera melantik Komjen Budi Gunawan.

Saat ini “angin sepoi-sepoi” politik Senayan terhembus jauh lebih stabil dan kondusif, hingga memungkinkan proses politik di DPR akan berjalan normal. Artinya uji kelayakan dan kepatutan yang menjadi kewenangan DPR untuk menguji calon Kapolri diharapkan juga berjalan tanpa intrik, politisasi, kriminalisasi, dan kegaduhan yang hanya akan menyita waktu, pikiran, dan energi yang terbuang dengan sia-sia.  

Indikatornya, sejauh ini tidak ada komentar yang negatif terhadap Komjen Tito, baik dari kalangan politisi Senayan, pimpinan fraksi maupun pimpinan DPR. Bahkan menurut laporan harian Rakyat Merdeka edisi Kamis, 16/6/2916 menyebutkan sekurangnya ada 37 ribuan akun yang mencuit soal itu dan semua positif. Semua suka, semua happy, semua mengapresiasi, mendukung, dan memuji langkah berani Presiden Jokowi.

Meski hujan pujian dan penilaian yang syarat dengan “angin surga,” khususnya untuk Komjen Tito tidak membuat dirinya tersanjung lantas lupa diri. Sebab dukungan itu juga mengandung makna berjuta mimpi dan harapan. Berjuta mimpi dan harapan itu yang diletakan diatas pundak Komjen Tito Karnavian tidak lain adalah, bisakah Tito menemukan kembali “polisi sejati.” Polisi yang melayani, mengayomi, melindungi, polisi yang bebas dari intervensi dan mampu menegakan hukum atas perintah undang-undang, bukan sekedar menabur mimpi yang utopis. 

Tugas Komjen Tito kian berat, ketika harus lebih dulu membenahi internal polisi itu sendiri. Bukan perkara harus baik hati dengan para seniornya saja, akan tetapi kaharusan untuk memperbaiki sebagian besar polisi yang terlanjur terjebak “aksi kotor” dan sikap mental buruk yang sulit dipahami publik. Sementara tugas lain seperti pemberantasan korupsi, narkoba dan terorisme menunggu geliat Komjen Tito secara lebih cerdas lagi. (Jusuf Suroso).         

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2