Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) akan menjemput paksa empat anggota Kepolisian RI (Polri) yang selama ini menjadi pengawal pribadi Sekretaris Mahkamah Agung RI, Nurhadi Abdurrachman. Menurut keterangan Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati, sampai Rabu, 8 Juni 2016 pihaknya belum mendapat jawaban dari Markas Besar (Mabes) Polri terkait pemanggilan KPK kepada keempat personil Polri tersebut (Koran Tempo, 9/6/2016).

Keempat personil Polri itu adalah Inspektur Dua Andi Yulianto, Brigadir Fauzi Hadi Nugroho, Brigadir Dwianto Budiawan dan Brigadir Ari Kuswanto. KPK melayangkan surat pemanggilan ke dua (Selasa, 7/6/2016), untuk dimintai keterangan sebagai saksi tekait dugaan suap di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menyeret Nurhadi Abdurrachman, yang status hukumnya masih sebagai tercekal. Namun keempat personil Polri itu mangkir tanpa alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Patut diduga adanya persekongkolan yang sengaja dibangun Nurhadi untuk melindungi aksi kotornya dengan menghambat penegakan hukum yang dilakukan KPK. Sebelumnya KPK juga mengalami kesulitan menghadirkan pengemudi Nurhadi, Royani yang hingga kini berstatus buron. Royani adalah staf panitera MA yang sehari-hari menjadi sopir Nurhadi. Bagi KPK Royani adalah saksi penting yang diduga mengetahui keterlibatan Nurhadi dalam kasus suap di PN Jakarta Pusat itu.

Ini merupakan tamparan bukan hanya kepada KPK tetapi pada lembaga peradilan di negeri ini, ketika seorang sekretaris lembaga penegak hukum tertinggi di negeri ini justru menghambat proses penegakan hukum, yang kebetulan melibatkan diri mereka sendiri. Memalukan (kalau masih punya rasa malu), ketika ia juga “mendalangi” bukan hanya raibnya saksi kunci Royani tetapi juga tidak kooperatifnya keempat pengawal pribadinya yang kebetulan juga berprofesi sebagai penegak hukum dari Polri.

Kasus raibnya para saksi ini memperlihatkan geliat bodoh Nurhadi, secara sengaja “menyingkirkan” para saksi kunci yang justru memperkuat dugaan keterlibatan dirinya dalam kasus suap itu. Apalagi KPK sudah mengantongi barang bukti dengan menyita sejumlah uang dari rumahnya. Sementara KPK akan segera dapat menghadirkan para saksi itu utamanya keempat anggota Polri sesuai dengan janji Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar.

Jikalau demikian publik sudah nggak sabar menunggu pengakuan geliat kotor Nurhadi Abdurrachman. Sekarang bola ada di tangan KPK, untuk memastikan sejauh mana keterlibatan Nurhadi dalam kasus ini. Sementara bagi Nurhadi sendiri penyesalan kemudian tak ada gunanya, dan seharusnya dia memilih lebih kooperatif saja.  (Jusuf Suroso)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2