Berita utama surat kabar Kompas Kamis 2 Juni 2016, adalah ucapan terima kasih dan apresiasi Megawati Soekarnoputri kepada Presiden Joko Widodo, atas kesadarannya menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila dan dinyatakan sebagai hari libur nasional (Kompas, 2/6/2016).

Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila dalam konsideran menimbang menyatakan; Soekarno pertama kali memperkenalkan Pancasila sebagai dasar negara di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. Keppres ini mengakiri keraguan, ketidakpastian, dan dualisme pandangan terkait lahirnya Pancasila selama 71 tahun. 

Pada era Orde Baru Pancasila digambarkan sedemikian rupa seolah-olah lahirnya Pancasila pada 18 Agustus 1945 atau satu hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia bertepatan dengan panetapan Pancasila sebagai dasar negara. Demikian pula siapa penggali dan yang melahirkannya, “diselewengkan” dan senantiasa dijauhkan dari orang yang pertama kali menyebut Pancasila dalam pidato 1 Juni 1945 yaitu Soekarno, dalam menjawab pertanyaan Ketua Sidang BPUPKI Radjiman Wedyodiningrat.

Namun, bukan berarti pasca lahirnya Keppres ini, masalah dasar negara dan Pancasila akan dengan sendirinya selesai. Penetapan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila dan dinyatakan sebagai hari libur nasional baru sebatas “obat rindu” terhadap Pancasila itu sendiri. Belum menjawab beragam persoalan yang tengah dihadapi warga bangsa dan negara ini.

Masalah substansial dan jauh lebih penting dari kelahiran Keppres itu adalah bagaimana menjadikan kelima sila dalam Pancasila menjadi dasar sumber segala sumber hukum para penyelenggara negara, menjadi dasar bertindak dan berperilaku segenap warga bangsa. Pendek kata, adalah bagaimana menjadikan Pancasila sebagai bagian dari “gaya hidup” seperti yang diharapkan Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, yang kebetulan adalah putri mendiang Presiden Soekarno. 

Konsekuensi dari penerbitan Keppres merupakan tantangan sekaligus pekerjaan rumah bukan hanya Presiden Joko Widodo, tetapi juga para penyelenggara negara dan segenap warga bangsa untuk menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila itu menjadi pegangan, dasar bertindak dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. (Jusuf Suroso).  

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2