Selasa sore (31/05), sebuah SMS masuk dari Humas MPR via provider dengan pesan: MPR menyelenggarakan peringatan pidato Bung Karno 1 Juni 1945 tentang lahirnya Pancasila di Bandung. Pancasila Ideologi Bangsaku, Gotong Royong Semangat Negeriku. “Peringatan pidato Bung Karno”, dengan redaksional seperti itulah selama ini momen 1 Juni biasanya disebut dalam berbagai kegiatan resmi walaupun di luaran banyak juga yang menyebut momen itu sebagai hari lahir Pancasila.  Kenyataannya, sampai hari ini (Selasa, 31/05) memang belum ada keputusan resmi pemerintah yang menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Karenanya bisa dimaklumi jika beredar pula versi hari lahir Pancasila yang lainnya, yakni tanggal 22 Juni dan 18 Agustus.

Tanggal 1 Juni banyak disebut sebagai hari lahir Pancasila karena pada tanggal itu kata Pancasila diucapkan oleh Bung Karno untuk pertama kalinya dalam sejarah dalam pidatonya pada sidang BPUPKI. Berikut adalah cuplikan pidatonya yang dikutip dari buku Bung Karno – Sang Singa Podium yang ditulis oleh Rhien Soemohadiwidjojo (2013, 81-108), “Dasar negara yang saya usulkan. Lima bilangannya. Inilah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya menamakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa (Muhammad Yamin) namanya Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia kekal dan abadi." Sementara, beberapa kalangan mengatakan tanggal 22 Juni 1945 sebagai lahirnya Pancasila karena pada waktu itu Panitia Kecil Penyelidik Usul-Usul/Perumus Negara yang terdiri dari Ir. Soekarno, Moh Hatta, A.A. Maramis, KH Wachid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, Abukusno Tjokrosujoso, H. Agus Salim, Ahmad Subardjo dan Muh Yamin berhasil merumuskan Mukadimah Hukum Dasar, yang kemudian dikenal dengan sebutan Piagam Jakarta.  Sedangkan 17 Agustus 1945, diyakini sebagai hari lahir Pancasila oleh sejumlah lain kalangan, karena pada tanggal tersebut Pancasila ditetapkan sebagai Dasar Negara.

Kini, setelah 71 tahun tanpa keseragaman momen pemaknaan, pemerintah akan menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Walau belum ada edaran resmi, kabar baik itu disampaikan oleh staff khusus presiden bidang Komunikasi Johan Budi (31/5) bahwa Presiden Joko Widodo dijadwalkan mengumumkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dalam peringatan di Bandung (1/6) melalui Kepres. Keputusan ini tidak saja menjadi jawaban atas permintaan PB NU, PDIP , maupun 31 organisasi yang tergabung dalam aliansi ormas sosial keagaamaan, pemuda dan mahasiswa saja, namun menjadi jawaban bagi semua warga negara atas ketidakpastian sebuah momen sejarah penting selama ini.

Dengan penetapan resmi tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, maka sebuah momen penting sejarah yang sebelumnya terasa menggantung itu kini boleh menjadi tonggak kokoh yang mendasari proses perjalanan sejarah yang berikutnya. Bahwa Pancasila sebagai dasar untuk mendirikan negara Indonesia kekal dan abadi yang disampaikan Bung Karno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 itu lalu dirumuskan pada tanggal 22 Juni 1945 oleh Tim Kecil dan kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 disyahkan rumusannya dan ditetapkan secara resmi menjadi Dasar Negara. 

Penetapan Hari Lahir Pancasila ini semoga membangkitkan kembali semangat keindonesiakan dan persatuan kita, semangat yang sama sebagaimana diekspresikan Bung Karno dalam pidatonya pada momen 1 Juni 1945, “… Dasar negara, yakni dasar untuk di atasnya didirikan Indonesia Merdeka, haruslah kokoh kuat sehingga tak mudah digoyahkan. Bahwa dasar negara itu hendaknya jiwa, pikiran-pikiran yang sedalam-dalamnya, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Dasar negara Indonesia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak keindonesiaannya dan sekalian itu dapat pula mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, aliran, dan golongan penduduk." (L. Bekti Waluyo)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2