Setya Novanto Ketua Umum GolkarPersaingan antara Ade Komarudin dan Setya Novanto memperebutkan posisi Ketua Umum Patai Golkar berlangsung sengit dalam Munaslub di Bali (14-17 Mei 2016). Namun, berbeda  dengan penetapan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar. Dalam pandangan umum, semua pengurus Golkar tingkat provinsi, organisasi pendiri, dan organisasi sayap sangat menyanjung laporan pertanggungjawaban kepengurusan Golkar sebelumnya, yang dipimpin Aburizal Bakrie. Mereka mengusulkan Ical menjadi Ketua Dewan Pembina.

Keberadaan Dewan Pembina sebagai pengganti Dewan Pertimbangan disahkan kendati Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Akbar Tandjung sempat menyatakan tidak setuju. Selain Dewan Pembina, disepakati adanya Dewan Kehormatan dan Dewan Pakar. Dalam AD/ART, Dewan Pembina bersama Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar memutuskan isu-isu strategis. Isu-isu strategis antara lain penentuan calon presiden atau calon wakil presiden.

Melihat Munslub Partai Golkat tersebut, terkesan perebutan kursi Ketua Umum Golkar sejak awal mengerucut pada persaingan Ade Komarudin dengan Setya Novanto. Persaingan itu pun berlangsung dinamis. Tim pemenangan Novanto mengamankan suara dari kepengurusan tingkat provinsi, sementara tim Ade mengumpulkan dukungan dari tingkat kabupaten/kota. 

Dukungan mulai mengemuka dalam pemandangan umum dari pengurus tingkat provinsi yang diadakan kemarin. Sebanyak 15 pengurus Golkar tingkat provinsi dan satu organisasi pendiri, yaitu MKGR, dalam pemandangan umumnya langsung menyebutkan dukungan kepada Novanto. Penyebutan nama Novanto sempat memicu ketegangan. Sejumlah pengurus tingkat kabupaten/kota ternyata punya pilihan berbeda dengan pengurus tingkat provinsi.

Ketua DPD Jambi Zurma Manaf misalnya, mengaku pihaknya baru menentukan sikap politik pada Senin pagi, sebelum sesi pemandangan umum dimulai.  "Senin pagi, baru kami rapatkan antara DPD Jambi dan 11 DPD kabupaten/kota, ditentukan dukung Novanto. Perdebatan kembali terjadi saat penentuan sistem pemilihan secara tertutup atau terbuka. Akhirnya, diputuskan pemilihan ditetapkan berdasarkan sistem tertutup, agar tidak terjadi main mata. Ketua umum langsung ditetapkan bila voting tertutup yang bersangkutan mendapat 30 persen suara, sementara kandidat lain tak ada yang mendapat dukungan 30 persen. 

Pernyataan dukungan terhadap Novanto terlihat “kasat mata” ketika peserta Munaslub Golkar menyampaikan pemandangan umum atas laporan pertanggungjawaban Ketua Umum DPP Partai Golkar 2014-2019 Aburizal Bakrie. Dari DPD I Jambi, Zurman Manaf misalnya menyatakan mendukung Novanto menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Bak gayung bersambut, dukungan Jambi itu diikuti DPD I Kepulauan Riau, NTB, NTT, Banten, Bali, Kalimantan Utara, Papua Barat, Bangka Belitung, Maluku Utara, dan Sulawesi Utara. Novanto juga didukung beberapa DPD II dan MKGR (Media Indonesia, 17/5/2016). 

Kemenangan Setya Novanto dalam Munaslub Partai Golkar di Bali sudah bisa diduga sebelumnya, karena kedekatannya Novanto dengan MenkoPolhukam, Luhut Panjaitan, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, dan terpilihnya Nurdin Halid sebagai Ketua Steering Committee Munaslub Golkar. Semua itu di tambah politik uang yang sulit dibuktikan, tetapi ada, menunjukkan politik kita masih sebatas, “siapa, mendapat apa, kapan, dan bagaimana, serta berapa banyak” (FS Swantoro).    

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2