Sungguh biadab dan keji, perilaku 14 orang yang memperkosa dan membunuh remaja putri berusia 14 tahun, YY, di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Karena itu, kini Indonesia menangis. Pada 3 Mei 2016, Presiden Joko Widodo menyuarakan dukacita atas kejadian yang menimpa YY melalui Twitter. Jokowi mencuit "Kita semua berduka atas kepergian YY yang tragis. Tangkap dan hukum pelaku seberat2nya. Perempuan dan anak2 harus dilindungi dari kekerasan." (Kompas, 7/5/2016). Sejak 3 Mei 2016, muncul petisi di Change.org bertajuk "Urgent! Mendesak Pembahasan UU Penghapusan Kekerasan Seksual. 

Tragedi yang menimpa YY bulan April 2016 itu semula tak mendapat perhatian media massa arus utama atau pengambil kebijakan publik di Indonesia. Beruntung, ada aktivis perempuan dan anak yang menginisiasi gerakan daring di media sosial. Pada awal Mei 2016, nama YY menjadi buah perbincangan di dunia maya setelah tagar yang disertai tautan cerita kejadian keji dan biadab yang menimpa siswi sekolah menengah pertama itu menyebar dan menjadi topik hangat di Indonesia

YY kemudian dibingkai menjadi simbol perlawanan terhadap struktur sosial patriarki yang memungkinkan kekerasan terhadap perempuan dan anak terus terjadi. Kematian YY dijadikan momentum untuk mendorong pemerintah hadir lewat instrumen hukum untuk memastikan tidak akan ada YY lain di kemudian hari. 

Pertanyaannya, mampukah gerakan terkait kasus YY itu bisa mendorong pemerintah dan DPR serius membahas RUU Penghapusan Kekerasan Seksual? Kini brbagai kalangan mendesak agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual cepat disahkan. Lewat regulasi itu, Indonesia punya payung hukum untuk mengatasi problem kekerasan seksual secara komprehensif. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi dan DPR harus segera menuntaskannya.

Pemerkosaan terhadap YY hanya puncak gunung es. Menurut Komnas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan seksual, setiap tahun meningkat. Setiap hari, menurut laporan sejak Maret 2014, sekitar 20 perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Pemerkosaan berbeda dari kejahatan kriminal lain karena yang diserang integritas tubuh akibat ketimpangan relasi kuasa antara perempuan dan pria.

Kekerasan seksual terus terjadi karena cara pandang sebagian masyarakat masih menyalahkan perempuan lewat ungkapan tentang pakaian, riasan, asesoris, atau perilaku perempuan menggoda. Masyarakat juga berlaku permisif, membiarkan sebagian besar pelaku tidak mendapat hukuman. Menghukum pelaku dengan berat penting untuk menunjukkan kekerasan seksual tidak dapat diterima, apa pun alasannya. 

Tidak ada jalan pintas menghentikan kekerasan seksual karena yang harus diubah adalah cara pandang masyarakat kita. Membuat undang-undang mencegah kekerasan seksual menjadi alat mempercepat perubahan tersebut agar Indonesia ke depan, tidak menangis lagi. Dan tidak terulang kasus biadab dan keji seperti pemerkosaan dan pembunuhan terhadap YY ini (FS Swantoro). 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2