Soekarno, Kartini, dan SrikandiLazim terjadi, seseorang yang didukung atau berbaik-hati dengan Kolonial Belanda akan dianggap sebagai kontra-revolusi, bahkan pengkhianat. Namun tidak demikian dengan Raden Ajeng Kartini, yang ditetapkan oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional pada 2 Mei 1964 melalui Kepres No.108/1964 dan mengangkat tanggal kelahirannya, 21 April sebagai Hari Kartini -salah satu hari besar nasional.

 

Soekarno yang dikenal anti-kolonialis dan anti-imperialis menggambarkan Kartini sebagai sosok perempuan yang berpendirian, berani, dan mandiri, sebagaimana gambaran Srikandi dalam kisah pewayangan jawa, prajurit perempuan dengan keris dan busur panah yang selalu digenggam -senapati Pandawa dalam Perang Bharatayudha yang berhasil menaklukkan Bisma.

 

Selain kolonialisme dan imperialisme, menurut Soekarno ada ‘isme’ lainnya yang juga harus dipendam, yakni elitisme. Elitis - kaum feodal yang memandang diri lebih tinggi dibanding orang lain,  yang mampu menginjak rakyat negeri sendiri. Kartini yang terlahir sebagai putri dari Kanjeng Bupati Jepara tidak tergoda untuk hidup bermewah-mewah sebagai bangsawan keluarga aristokrat. Keberpihakan dan kecintaannya pada rakyat jelata membuat hatinya selalu meradang gelisah kala melihat penderitaan dan kemelaratan. Seperti ditulisnya: “Aku renungi dan pikirkan keadaanku sendiri, dan di luar sana begitu banyak derita dan kemelaratan melingkupi kami! Seketika itu juga seakan udara menggetar oleh ratap tangis, erang dan rintih orang-orang di sekelilingku.

 

Alam budaya Indonesia yang didominasi oleh sistem patriarki menempatkan perempuan dalam struktur sosial di bawah laki-laki. Perempuan ditempatkan pada ruang terbatas yang meredam lonjakan potensi hingga menjadi kekuatan yang bisu. Kartini memberontak! Dalam diam penanya terus menyala, surat-suratnya kepada para sahabat menjadi inspirasi atas kesadaran menuntut hak dan pengakuan kesetaraan secara sosial. 

 

Kartini memainkan ‘busur’ penanya, melesatkan anakpanah-anakpanah revolusi yang bergerilya melawan prinsip nrimo ing pandum yang terbelenggu dalam tradisi yang kolot yang menyengsarakan rakyat dan kaum perempuan. Dan Gerwani, organisasi sayap PKI yang harus “dimatikan” kiprahnya, adalah yang mulai mengangkat itu kembali dalam terbitan berkala majalah yang mengabadikan namanya: Api Kartini. 

 

Dan semangat itu masih berkobar hingga kini, revolusi gerakan emansipasi yang menerobos pakem dan kekangan tradisi. Perempuan tak lagi takut mengambil peran, hadir dalam ruang-ruang dominasi feodal dan patriarkal yang menindas kaum dan mengeksploitasi keberadaan. 

 

Jika kini perempuan berani bersuara, itulah semangat Kartini. Jika perempuan berada pada posisi sosial dan profesi yang tinggi, itulah anak-panah Kartini. Raden Ajeng Kartini dan kartini-kartini lain di negeri ini yang menerobos kekangan tubuh dalam semangat kebangkitan, kesetaraan, harga diri, dan pengakuan.

Selamat berkarya wahai perempuan Indonesia, bergerilyalah anah-panah kartini, dan teruslah melesat oleh busur emansipasi! (Ad Agung)

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2