Presiden Jokowi kembali ke tanah air Sabtu (23/4) dari lawatan lima hari ke empat negara Uni Eropa, yakni Jerman, Inggris, Belgia dan Belanda (18-22 April). Kunjungan Presiden Jokowi ini mendapakan banyak porsi pemberitaan positif dari media mainstream di tanah air, terutama terkait dengan komitmen investasi. Namun demikian, ada isu yang menjadi perhatian media di Uni Eropa, yakni tentang demo dan seruan  terkait penanganan HAM, baik dari kasus masa lalu maupun masih diberlakukannya hukuman mati, tidak mendapatkan banyak pemberitaan di sini. Walau diwarnai dengan sejumlah demo, namun cukup mengemuka juga dalam pemberitaan perihal apresiasi Uni Eropa pada peran Indonesia dalam perdamaian dunia.

 

Selama berkunjung ke negara-negara Uni Eropa, Presiden Jokowi didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani dan sejumlah pejabat lain serta delegasi pengusaha. Sebagai oleh-oleh, Presiden Jokowi mengklaim tercapainya komitmen investasi B to B sebesar US$ 20,5 atau sekitar 269 triliun Rupiah. 

 

Di antara besaran komitmen itu,  Indonesia bakal bekerja sama dalam pendidikan kejuruan (vocational training) untuk meningkatkan jumlah tenaga terampil dengan Jerman. “Partnerschaft mit Indonesien hat Potenzial,” tulis Deutsche Welle (DW) dalam pemberitaan onlinenya (18/4). Mereka melihat adanya potensi dalam kemitraan yang dibangun dengan Indonesia.  Sementara, dengan Inggris, pemerintah mendapatkan komitmen kerja sama dalam  bidang ekonomi kreatif, seperti yang juga ditulis oleh businessnewsworld.com, “Indonesia, UK Sign Aggreement on Creative Economy.” Sedangkann dengan Belanda, sebagaimana banyak diprediksi, Indonesia membangun kerjasama di bidang maritim serta pengelolaan air dengan Belanda. “Maritieme samenwerking tussen Nederland en Indonesië,” catat portal maritiemnieuws.nl. Selain itu, juga dalam kaitannya dengan kemitraan bersama Belgia, Presiden menyatakan kesiapan Indonesia dalam menerapkan  Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa.

 

Oleh-oleh yang dibawa pulang Presiden Jokowi ini tentunya membesarkan hati.  Setidaknya fokus bidang kerjasama dengan masing-masing negara sudahlah sangat tepat dan menjanjikan. Tentang industri kreatif,  harus diakui bahwa Inggris memang sangat piawai dan berpengalaman. Berkaca dari suksesnya kampanye pariwisata Great Britain, sebagai misal, dunia pariwisata Indonesia dan industri pendukung lainnya bisa sangat tertolong melalui kemitraan ini. Sementara tentang kerjasama bidang maritim dan pengelolaan air, pengalaman Belanda dalam bidang tersebut tidak perlu diragukan lagi, demikian pula untuk Jerman dengan keunggulan pendidikan kejuruannya.

Pertanyaannya kemudian adalah, akankah komitmen investasi ini akan bisa terealisasi? Jika ya, akankah itu sepenuhnya bisa terealisasi tepat waktu, tepat nilai dan tepat sasaran? Semoga saja demikian. (L. Bekti Waluyo)

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2