HAM 1965 - Indonesia Human RIghts to All PeopleLokakarya dan temu kangen antara korban kekerasan 1965 dari seluruh Indonesia yang digelar Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 sedianya diadakan pada 14 April di kawasan Cisarua, Bogor, namun terpaksa ditunda dan dipindahkan lokasinya setelah ada upaya paksa pembubaran dari sekelompok orang. Selain temu kangen, lokakarya tersebut juga diadakan dalam rangka persiapan Simposium Nasional "Membedah Tragedi 1965" yang diselenggarakan oleh Dewan Pertimbangan Presiden, Komnas HAM, dan Forum Solidaritas Anak Bangsa, 18-19 April 2016 nanti.

 

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah berusia lanjut dan berasal dari beberapa daerah, seperti Parepare, Sumatera Utara, dan Balikpapan itu akhirnya harus berpindah tempat, dan memutuskan untuk sementara secara darurat tidur di LBH Jakarta/YLBHI.

 

Masyarakat begitu sensitif jika mendengar kata ‘1965’, juga ‘komunis’ dengan ‘PKI’nya. Adalah keberhasilan Orde Baru dalam propaganda dan doktrin kebablasan yang terus-menerus meracuni pikiran dari generasi ke generasi, hingga kini. Sangkanya, para penyintas yang kini sudah sepuh itu masih mampu mengangkat bendera palu-arit dan menegakkannya di sebelah demokrasi yang disebutnya sebagai Pancasila.

 

Sedangkan bagi para penyintas 65, yang kini mereka rasakan adalah kekecewaan dan rasa takut yang masih tersisa. Phobia kisah masa lalu tentang penahanan tanpa pengadilan, pelarangan terhadap banyak karya intelektual, serta rasa takut hanya karna dengan menyebut kata-kata tersebut dan membicarakannya dapat beresiko terkena stigma. Belum lagi tindakan masyarakat kontra-komunis -yang sebenernya tidak jelas apa ideologinya-, turut menciptakan teror.

 

Konflik horisontal di masa lalu yang terjadi di beberapa daerah sepertinya akan terulang kembali, dalam scoop yang lebih kecil, namun tak berhenti. Dan pembiaran oleh aparat keamanan pada tindakan represif yang dilakukan oleh masyarakat sipil ini akan menjadi konflik horisontal yang meluas, hingga pihak yang melakukan merasa mendapat angin. Di sinilah state terror bekerja, dan terbukti terjadi (lihat: Ad Agung - Hak Asasi Manusia Milik Semua Orang dari Segala Bangsa). 

Negara tampak tak serius dan gamang tangani pelanggaran HAM 1965. Masyarakat terbelah dengan opini dan sikapnya masing-masing. Kedewasaan reformasi nyatanya hanya menjamah usia yang bertambah, namun tak mampu move-on dari kungkungan doktrin yang telah mengikat pikiran pada momok dan stempel ‘haram’ bagi pandangan kiri, khususnya yang berkaitan dengan komunisme. (Ad Agung)

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2