Pelaksanaan Operasi Tinombala tidak terpengaruh dengan jatuhnya helikopter milik TNI Angkatan Darat yang menyebabkan 13 prajurit TNI gugur. TNI tetap mendukung polisi melaksanakan operasi keamanan dan pengejaran kelompok teroris pimpinan Santoso.  Operasi Tinombala akan terus dilakukan sampai Santoso ditangkap. Operasi itu meliputi seluruh wilayah Poso dan sebagian Kabupaten Sigi serta Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. 

Kepergian Komandan Korem 132 Tadulako Kolonel (Inf) Saiful Anwar dengan menggunakan helikopter TNI AD jenis Bell 412 EP nomor HA-5171, yang jatuh pada Minggu petang lalu, juga dalam rangka memantau Operasi Tinombala (Kompas, 22/3/2016).

Pada pukul 17.20 Wita, Helikopter berangkat dari Napu menuju Poso. Pukul 17.55 Wita, helikopter jatuh di Kelurahan Kasiguncu, Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tujuh penumpang helikopter itu berasal dari Satgas Tinombala. Selain Kolonel (Inf) Saiful Anwar, Kolonel (Inf) Heri Setiaji, dan Kolonel (Inf) Ontang RP, empat penumpang lainnya Letkol (CPM) Teddy S Prapat, Mayor (Inf) Fakih Rasyid, Kapten (CKM) dr Yanto, dan Prada Kiki. Adapun enam tentara lainnya adalah kru helikopter, yaitu Kapten (Cpn) Agung, Lettu (Cpn) Wiradi, Letda (Cpn) Tito, Serda Karmin, Sertu Bagus, dan Pratu Bangkit. 

Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Panjaitan untuk meneliti peristiwa jatuhnya helikopter itu. Langkah ini untuk menjawab berbagai spekulasi yang muncul meski ada laporan awal bahwa musibah karena faktor cuaca. Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso mendukung penelitian terhadap peristiwa itu. "Yang saya tahu, helikopter itu sebenarnya sangat tangguh. Tetapi, karena ada masalah sesuatu, perlu ada investigasi.  

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memastikan, saat kecelakaan ada hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Terkait spekulasi kecelakaan disebabkan ulah kelompok Santoso, ia menegaskan, masyarakat silakan saja berinterpretasi. "Tetapi, ini akibat cuaca. Untuk lebih pastinya tim investigasi akan bekerja." Sementara Kepala Polri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti mengatakan, jatuhnya helikopter bukan karena ditembak. "Lokasinya bukan di daerah rawan, tapi di perkotaan dekat bandara.

Menurut Gatot Nurmantyo, kecelakaan helikopter tidak berpengaruh terhadap Operasi Tinombala, operasi gabungan Polri dan TNI untuk memburu kelompok teroris Santoso. "Operasi berjalan terus dan tidak ada perubahan."  Operasi dengan sekitar 2.000 personel gabungan itu dimulai sejak 10 Januari 2016. Sejauh ini, sudah tujuh anggota kelompok Santoso tewas dalam baku tembak dengan tim operasi. Operasi saat ini berkonsentrasi di wilayah Lembah Napu, Poso bagian selatan. 

Publik mendukung pemberantasan terorisme menggarisbawahi pentingnya operasi seperti Operasi Tinombala. Di tengah rutinitas sehari-hari pemberantasan terorisme acap luput dari perhatian publik, pemerintah harus gigih menjalankan operasi ini yang merupakan bagian dari upaya mengenyahkan terorisme dari bumi Republik. Pada sisi lain, kita sadar, wilayah negara demikian luas, bahkan di sekitar Poso merupakan wilayah yang tak mudah dijangkau. Mengingat hal ini, tersedianya sarana transportasi seperti helikopter dan pesawat terbang merupakan keniscayaan. Hal yang sama dapat kita kemukakan untuk sarana di laut dan darat. Kini pun sambil mendoakan personel yang gugur di Poso, kita tidak lupa memetik pelajaran dari musibah ini. (FS Swantoro

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2