Kemunculan Taiping le (barongsai) di pusat-pusat pertokoan dengan dekorasi merah-emas pada awal perhitungan lunisolar menjadi penanda rangkaian perayaan Imlek hingga Cap Go Meh. Liong meliuk-liuk dalam tarian simbol kebahagiaan dan perdamaian, bersama Reog (Ponorogo), Tatung (Singkawang), dan Ondel-ondel (Betawi) sebagai penanda kehadiran para leluhur yang melepas sekat agama dan budaya. Tahun ini, khususnya pada perayaan Cap Go Meh (22/02/16) sebagai bagian dari rangkaian perayaan Tahun Baru Kalender Huang Di (Imlek) umat Khonghucu dirayakan dengan meriah di beberapa kota di Indonesia: Jakarta, Pontianak, Bogor, Solo, dan beberapa kota lainnya.

 

Mengingat kembali tahun 2000, tahun bersejarah bagi etnis Tionghoa dan umat Khonghucu, Gus Dur melalui Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 2000 mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 yang dibuat oleh Soeharto sebagai bentuk pembatasan dan larangan perihal keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa, termasuk Imlek. Secara politis, Inpres Soeharto telah membatasi gerak dan hak masyarakat Tionghoa baik dalam hal sosial-budaya, keyakinan beragama, maupun politik. Mereka menjadi warganegara nomer dua, dengan sejumlah diskriminasi dan pelecehan hak asasi yang tidak semestinya diterima.

 

Namun sejak keppres yang dikeluarkan oleh Gus Dur, Imlek menjadi hari libur fluktuatif, dan berlanjut menjadi hari libur nasional sejak 2003 lewat penetapan oleh Megawati saat menjadi presiden. Sikap Gus Dur dan Megawati sejalan dengan kebijakan Bung Karno, yang menetapkan empat hari libur fakultatif bagi masyarakat Tionghoa yang waktu itu mayoritas masih beragama Khonghucu, yakni: Tahun Baru Imlek, Qing Ming (Ching Bing/Sadranan), Hari Lahir Nabi Khongcu (Confucius) dan Hari Wafat Nabi Khongcu.

 

Penghargaan Bung Karno kepada warganegara etnis Tionghoa tak luput dari peran penting mereka dalam perjuangan pergerakan nasional. Sejarah mencatat dan menegaskan, senada dengan semangat kebangsaan yang diserukan oleh Bung Karno,”..kita semua adalah Bangsa Indonesia.” Maka perbedaan agama dan suku -serta menurun pada adat, tradisi, dan atribut lain-, tak layak menjadi identitas yang menjadi jurang pemisah hingga kita kehilangan arti “Bangsa yang Satu”.

 

Tak perlu lagi ada perdebatan: Imlek, perayaan budaya ataukah agama -hingga pada stempel halal/haram-? Wajah dunia jangan lagi tersekat-sekat oleh eksklusifitas agama, golongan, apalagi kepentingan bisnis dan politik. Sebagaimana kemeriahan Natal dan Lebaran, Nyepi dan Waisak yang dapat dirayakan bersama dalam semangat keluarga-bangsa, Imlek-pun tidak lagi milik umat agama Khonghucu atau masyarakat Tionghoa semata, melainkan milik satu bangsa meski sejak semula bhinneka. (Ad Agung)

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2