Dalam kunjungan kerja menghadiri KTT Asean-AS di Amerika Serikat, Presiden Jokowi bergerilya mengunjungi beberapa kantor perusahaan bidang teknologi informasi di Silicon Valley, yaitu Facebook, Googleplex, serta Plug and Play. Dalam siaran pers dari Tim Komunikasi Presiden tergambarkan, Presiden Joko Widodo hendak menawarkan kerjasama guna menyukseskan visi Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan nilai 130 miliar dollar AS pada tahun 2020.

 

Presiden Jokowi mengatakan, “Pemerintah Indonesia harus menetapkan kebijakan yang mendorong inovasi. Di antaranya program nasional menciptakan 1000 technopreneurs serta perlindungan bagi perusahaan start up.” Kita berharap gerilya Presiden Jokowi ke Silicon Valley itu bisa membuka diplomasi bisnis untuk mempercepat perkembangan industri kreatif utamanya yang berbasis digital yang sedang menggeliat di Tanah Air. 

 

Meski tidak pernah terlambat, kita nyata tertinggal dari pemain utama. Sehingga untuk menjadi pemain handal dalam persaingan ekonomi digital itu kita harus secepatnya melakukan terobosan strategis untuk menggenjot percepatan. Bila merujuk Peraturan Presiden RI Nomor 5 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 secara jelas disebutkan, akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional dicapai melalui: agroindustri, hasil hutan dan kayu, perikanan, dan hasil tambang; industri manufaktur; pariwisata; ekonomi kreatif; UMKM dan koperasi.

 

Ekonomi kreatif menjadi salah satu andalan untuk membuat percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Dokumen road map RPJMN itu menyatakan pembangunan ekonomi kreatif menargetkan sasaran pertumbuhan PDB sebesar 12 persen pada 2019, dengan perkiraan menyerap tenaga kerja sebanyak 13 juta orang, dan diharapkan menyumbang kontribusi ekspor (devisa bruto) sebesar 10 persen. Jika arah kebijakan dan strategi di tingkat kebijakan semuanya sesuai, sasaran terebut sesuai proyeksi pemerintah seperti yang disampaikan dalam siaran pers di atas, jumlahnya akan setara dengan 130 miliar dollar AS pada tahun 2020. 

 

Dalam kunjungan ke Silicon Valley itu juga digunakan Presiden Jokowi menyempatkan bertemu dengan orang-orang Indonesia yang bekerja di pusat bisnis kreatif berbasis teknologi informasi di Amerika Serikat itu. Maksud Presiden sederhana saja, membujuk orang-orang kreatif berotak cemerlang itu kembali pulang ke “kampung” Indonesia agar bisa ikut menghidupkan ekonomi kreatif berbasis digital di Tanah Air. Kita berharap diplomasi di Silicon Valley ini akan mempercepat implementasi kebijakan untuk serius memfasilitasi Orang Kreatif (OK) – istilah dalam RPJMN – di sepanjang rantai bisnis di semua lini industri kreatif agar hidup dan berkembang hebat.

 

Diplomasi Presiden Jokowi ke Silicon Valley semoga membuka lebar optimisme publik. Seperti optimisme Mark Zuckerberg – pendiri sekaligus CEO Facebook – membagikan pengalaman gembiranya menerima Presiden Jokowi dalam akun Facebook resminya. “Hari ini, kami menghasilkan diskusi yang baik soal kelanjutan kerja sama untuk meningkatkan koneksi dan memperluas kesempatan internet bagi semua orang di Indonesia,” tulis Mark. (Ari Nurcahyo/PS)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2