Hanya selang sehari setelah aksi teror bom di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1), suasana di Ibu Kota Jakarta kembali normal. Kesan bahwa warga Jakarta terguncang dan takut akibat aksi teror yang menewaskan delapan orang, lima teroris dan tiga warga sipil itu tidak terlihat.

Aktivitas di berbagai sektor perekonomian terlihat tetap bergairah. Pergerakan indeks harga saham gabungan bahkan dibuka menguat. Begitu pula dengan nilai rupiah yang ditransaksikan terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi yang teramat kondusif itu tak akan hadir apabila aparat keamanan gagal menangani aksi teror brutal yang dilaporkan dikendalikan serta dibiayai langsung oleh jaringan ISIS di Suriah itu (Media Indonesia, 17/1/2016).

Dari berita koran dan media televisi, terlihat kasat mata masyarakat dan dunia dapat menyaksikan bagaimana aksi aparat kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia menumpas aksi teror tersebut. Kesigapan, kecermatan, dan kecepatan aparat keamanan sangat terlihat terlatih sehingga situasi tak perlu waktu berlama-lama untuk mengendalikan situasi. Dengan kerja sama kompak dan percaya diri, Polri-TNI langsung menumpas tuntas di tempat kejadian, membuat teroris tak berdaya hanya empat jam. Harus diakui bahwa kinerja aparat dalam insiden Thamrin sangat mumpuni dan membuat teroris gagal total menebar rasa takut.

Jika dibandingkan dengan operasi penumpasan terorisme sejenis di luar negeri, kita patut bangga. Sebagai contoh, dalam penumpasan teror bom di Bangkok, Thailand, tahun lalu, polisi setempat membutuhkan waktu 11 hari, dari 17-28 September 2015. Demikian pula penumpasan teror di negara-negara lain yang membutuhkan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Dalam insiden Thamrin, operasi aparat keamanan Polri-TNI tergolong cepat.

Bukan hanya itu, operasi penumpasan teroris oleh aparat kita juga sangat meminimalkan jumlah korban dari masyarakat sipil. Korban jiwa bahkan jauh lebih banyak yang berasal dari pelaku teror bom. Kinerja itu membuat publik merasa aman dan tidak punya rasa takut. Teror yang bertujuan menebar kecemasan dan rasa takut berbuah olok-olok dan parodi tentang kekonyolan teroris. 

Ada yang bilang, “para teroris itu budeg, karena disuruh ke Suriah, malah ke Sarinah.” “Hanya terjadi di Indonesia, selagi ada aksi teror bom dan tembak-tembakan dengan aparat keamanan, masih ada orang jualan sate ayam dan minuman mayzon,” aneh tapi nyata.  Ungkapan itu banyak bermunculan di media social seperti Fece Books dan Tweeter, hingga membuat masyarakat berani melawan rasa takut. Itu indikasi masyarakat percaya kepada aparat keamanan yang bisa diandalkan untuk menumpas aksi terorisme, kapan pun dan di mana pun akan terjadi (FS Swantoro). 

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2