Aksi teror di Jalan MH Thamrin, Kamis (14/1), menumbuhkan kesadaran publik untuk bangkit bersama melawan terorisme yang biadab. Berbagai organisasi masyarakat dan pemerintah mengutuk keras aksi terror itu. Aksi biadab ini dimulai pukul 10.40 dan hanya berjarak tiga kilometer dari Istana Kepresidenan, dan terjadi saat Presiden Joko Widodo berada di Cirebon, Jawa Barat dan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. 

Kurang dari dua jam sebelum teror yang dilakukan lima pria itu terjadi, Markas Besar TNI menggelar Apel Operasi Penegakan dan Ketertiban Tahun 2016 di Silang Monas, yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari lokasi teror. Acara itu dihadiri Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Kurang dari empat jam setelah aksi teror dimulai, polisi berhasil mengatasinya. Semua pelaku teror berhasil dilumpuhkan (Kompas, 15/1/2016).

Presiden Jokowi mengunjungi lokasi teror pukul 16.00. Presiden didampingi Kapolri, Panglima TNI, Menko Polhukam, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dan Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian. "Kita berduka atas jatuhnya korban dalam peristiwa ini. Kita mengecam tindakan ini. Negara, bangsa, dan rakyat, tidak boleh takut dan kalah. Saya harap masyarakat tetap tenang karena semuanya telah terkendali."  

Sementara Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj menegaskan, peristiwa yang kemarin terjadi di Jalan MH Thamrin ini tidak sesuai dengan ajaran agama mana pun.  "Tindakan teror oleh siapa pun, atas nama apa pun, dan dengan alasan apa pun, merupakan hal yang terkutuk. Dan, “Ini merupakan bentuk kemungkaran."  

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Ignatius Suharyo menyatakan, peristiwa itu sungguh memprihatinkan dan menyedihkan bukan hanya karena menyebabkan jatuhnya korban, melainkan karena ada pihak menggunakan kekerasan sebagai pilihan untuk memaksakan kepentingannya. Terkait hal ini, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Henriette TH Lebang menegaskan, “kita perlu bekerja sama menghadapi aksi teror dan aksi biadab ini. 

Aksi teror di Jakarta itu telah merusak suasana aman awal 2016 dan memberikan isyarat betapa bahayanya terorisme dan masih menjadi ancaman serius. Berbagai kalangan mengapresiasi aparat keamanan yang dinilai bertindak cepat mengatasi kaum teroris yang melepaskan tembakan dan melancarkan aksi peledakan bom, termasuk dengan metode bunuh diri. Identitas otak dan pelaku serangan diharapkan segera terungkap jelas untuk menghindari spekulasi yang simpang siur.

Serangan tidak hanya menimbulkan korban langsung, yang dilaporkan tujuh orang tewas dan 24 orang luka, termasuk lima teroris, tetapi juga menciptakan suasana mencekam, kengerian, dan rasa takut mendalam yang jadi tujuan utama aksi biadab ini.Dan dunia pun kini mengutuk aksi biadab yang tidak bertanggung jawab ini (FS Swantoro).

 

Category: Scrutiny 2015-2017