Presiden Joko Widodo memanggil pimpinan dari kedua kubu Partai Golkar yang berseteru, yakni kubu Agung Laksono dan Aburizal Bakrie. Presiden berharap konflik partai beringin ini segera bisa diakhiri. Karena konflik yang berkepanjangan dikhawatirkan akan  mempengaruhi proses pemerintahan atau hubungan legislatif dengan eksekutif.

Meredanya konflik internal Partai Golkar juga diharapkan mampu menciptakan stabilitas politik yang secara tidak langsung membawa dampak bagi program ekonomi pemerintah, terutama dalam percepatan pembangunan. Karena itu partai yang menghadapi konflik internal perlu segera melakukan konsolidasi dan menyelesaikan konflik, serta berpartisipasi dalam mengembangkan demokrasi yang sehat. 

Kalau kita lihat perjalanan panjang politik Indonesia bisa dilihat kembali bahwa sejarah politik kita dari dulu hingga sekarang pada dasarnya adalah sejarah konflik. Dari satu konflik ke konflik lain, sambung-menyambung menjadi satu seperti konflik antar aliran politik, konflik antar ideologi dan partai politik, konflik antar elite partai di pusat maupun daerah dan sebagainya. Konflik yang terjadi di pusat kekuasaan itu, seringkali membawa pengikutnya di daerah-daerah.   

Menurut Aburizal dalam kehadirannya di istana adalah untuk memberikan dukungan dan bergabung bersama pemerintahan Jokowi-JK. Untuk melakukan pembangunan dalam keadaan sulit seperti sekarang diperlukan stabilitas politik. Partai Golkar sebagai kekuatan politik yang besar harus mau duduk bersama dengan pemerintah untuk dapat memantapkan stabilitas politik dalam menjalankan roda pembangunan nasional. Aburizal menegaskan arti bergabung dengan pemerintah tidak harus masuk kabinet dan ini sudah dikomunikasikan dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto serta pimpinan partai lain, seperti PKS, PAN, dan PPP yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP).

Melihat fenomena kehadiran dua kubu yang berseteru dalam Partai Golkar, yakni Agung dan Ical ke istana, itu pertanda Koalisi Merah Putih de facto sudah bubar. Dan pengurus DPP Partai Golkar di pusat sudah tidak menjadi penentang pemerintah di parlemen. Dengan bahasa yang santun merapatnya Golkar ke pemerintah ini, menunjukkan Golkar ingin menjadi sparing partner pemerintah dan para elite partai beringin ingin memberi masukan kepada pemerintah, sebelum suatu kebijakan diambil. Itu penting bagi dunia politik, agar jagad politik tidak terus gaduh seperti yang terjadi sepanjang tahun 2015. 

Namun di sisi lain, kehadiran Agung dan Ical ke istana, juga bisa dibaca atau menyiratkan bahwa Partai Golkar sudah tidak mungkin bisa diselamatkan lagi dan penyelesaian konflik di internal Partai Golkar sudah gagal total. Untuk itu, konflik internal Partai Golkar jangan sampai berlarut-larut kalau tak ingin Golkar menjadi partai gurem dalam Pemilu Legislatif 2019 mendatang (FS Swantoro).  

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2