E-dagang atau e-commerce diperkirakan menjadi salah satu usaha yang akan mengalami perkembangan pesat ditahun 2016. Moncernya bisnis E-Dagang ini tak lepas dari meluasnya penggunaan internet di masyarakat (Kompas, 2/1/2016). Belanja daring pertama kali dikenalkan oleh Michael Aldrich pada 1979. Karyawan Rediffusion Computers ini menyambungkan televisi dengan komputer melalui kabel telepon untuk memproses transaksi real-time. Pada 1995, Amazon meluncurkan toko buku daring yang menginspirasi situs belanja daring  dan tahun 1996 eBay lahir, menjadi salah satu situs transaksi daring terbesar hingga sekarang.

Di Indonesia, penggunaan teknologi informasi berkembang dari dunia perbankan. Pada 31 Maret 1995, dikeluarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 27/164/KEP/DIR tentang Penggunaan Sistem Informasi oleh Bank. Pada tahun1999, beberapa perusahaan mengembangkan e-dagang di Indonesia, salah satunya Asiagetway bekerja sama dengan radio amatir, mereka menawarkan belanja barang konsumen di internet, melalui radioclick.com. 

Menurut hasil riset eMarketer, pertumbuhan penjualan barang dan jasa melalui internet pada kurun 2014-2019 diperkirakan meningkat 21 persen atau setara 448 triliun dollar AS per tahun. Kenaikan transaksi e-dagang ini sedikit demi sedikit menggerus perolehan total penjualan ritel di seluruh dunia. Pada 2014, persentase penjualan ritel lewat internet hanya mengusai 1.336 triliun dollar AS atau 7,4 persen dari total penjualan ritel global. Namun, pada 2019, penetrasi transaksi lewat internet diperkirakan akan mengusai hingga 3.578 triliun dollar AS atau 12,8 persen. Transaksi daring diproyeksi akan mendominasi total penjualan ritel di dunia dimasa mendatang.

Kinerja cemerlang e-dagang ini diikuti dengan kemunculan perusahaan rintisan (startup) untuk menjaring semakin banyak pelanggan di dunia maya. Perusahaan besar pun tak mau ketinggalan untuk ikut berebut pangsa. Kondisi demikian terjadi di seluruh dunia, dan tidak terkecuali Indonesia. Di Indonesia kini disebut sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki prospek besar bisnis e-commerce. Menurut hasil riset Euromonitor, pertumbuhan rata-rata tahunan penjualan daring di Indonesia kurun 2014-2017 mencapai 38 persen. Dengan angka ini, Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia Tenggara, mengalahkan Thailand dengan pertumbuhan 19 persen dan Singapura 13 persen. Karena itu, bersiap-siaplah trend e-commerce akan melojak pesat di tahun 2016 ini (Swantoro).

 

Category: Scrutiny 2015-2017