Kepolisian Negara Republik Indonesia memperketat pengamanan obyek vital dan pusat keramaian di DKI Jakarta guna mengantisipasi ancaman teror jelang akhir tahun. Polri terus meningkatkan pengamanan bagi pejabat negara dari ancaman teror individu/kelompok radikal. Setelah menangkap delapan terduga teroris di sejumlah lokasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, Polri meningkatkan konsentrasi pengawasan di DKI Jakarta (Kompas, 28/12/2015). 

 

Empat terduga teroris yang ditangkap di Cilacap dan Sukoharjo (Jateng) serta Tasikmalaya (Jabar), yakni R, YS, AJ, dan Z, terbukti merencanakan serangan akhir tahun dengan mengincar pejabat negara atau kelompok minoritas. Adapun empat terduga teroris yang ditangkap di Mojokerto dan Gresik (Jatim), yaitu MKA, TP, I, dan JA, merupakan buronan gerakan Jamaah Islamiyah di Klaten (Jateng). Kelompok pendukung gerakan radikal Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di Indonesia menargetkan pejabat negara, Polri, dan TNI, serta kelompok minoritas. Untuk itu Polri perlu mengevaluasi delapan terduga teroris tersebut  agar tidak keliru mengidentifikasi mereka. 

Dan semua elemen bangsa harus turut mendukung upaya pencegahan teror oleh kelompok radikal. Ancaman terorisme di Indonesia kini semakin nyata dengan penangkapan 10 terduga teroris di Jawa Tengah dan Jawa Barat yang berencana menyerang sejumlah lokasi. Penangkapan terduga teroris ini membuktikan agenda teror mereka sangat nyata. Meskipun jumlah personelnya masih sedikit, tetapi mereka beraksi secara militan serta memiliki jaringan, dukungan dana, dan sistem yang terorganisasi dengan baik.

Karena itu, tidak bisa hanya Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme saja yang memerangi terorisme, semua elemen bangsa harus berpartisipasi melawan terorisme. Seandainya semua elemen bangsa tidak waspada serangan teror bisa menjatuhkan kredibilitas bangsa Indonesia di mata dunia. Menurut Said Aqil, pergerakan kelompok radikal yang mengatasnamakan agama Islam telah keliru memahami ajaran Islam. Karena Islam anti kekerasan, anti teror, dan anti radikal.

Said Aqil memastikan, semua ulama NU selalu menyebarkan ajaran Islam yang toleran, membawa nilai-nilai kebersamaan, serta melarang kekerasan. Sementara mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengatakan, terorisme adalah musuh peradaban dan akal sehat. Masyarakat yang waras, tidak akan memberi peluang kepada setiap tindakan teror sekalipun radikalis menggunakan jubah agama. Ajaran agama yang mereka pahami adalah sesat (FS Swantoro).

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2