MEA 2015Waktu mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah sangat dekat. Tinggal berhitung hari lagi. Siap tidak siap, kita semua harus menghadapinya. Dikatakan “siap tidak siap” karena dari penelusuran pemberitaan media dua hari terakhir (13-14/12), peta kondisi kesiapannya belumlah banyak berubah. Baik itu dari pihak pemerintah, industri, asosiasi industri, pelaku industri, dari sisi daya saing produk dan jasa, hingga kesiapan mental dan aspek pendukung lainnya masih begitu-begitu saja tanpa akselerasi yang berarti sepanjang tahun ini. Jikapun ada yang mengklaim benar-benar siap, dan jika itu benar demikian, masihlah bersifat sangat parsial atau sektoral saja. 

 

Sebenarnya, pertanyaannya tidak saja dalam level siap atau tidak, namun bahkan dalam takaran tahu atau tidak. Sosialisasi yang terkesan kurang masih menyisakan banyak pertanyaan dan bahkan ketidaktahuan yang menghambat. Hasil riset LIPI bulan November lalu membuktikan ini, bahwa dari 2.509 responden di beberapa kota besar, hanya 25,9 persen masyarakat umum dan 27,8 persen pelaku usaha tahu tentang pemberlakuan MEA. Padahal, diberlakukannya MEA mulai tanggal 31 Desember 2015, dalam kondisi seperti sekarang ini, jelas menggendong anomali dan paradoks.

 

Dengan mulai diberlakukannya MEA, arus barang dan jasa dari dan ke 10 negara Asean – yakni Indonesia, Filipina, Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja – akan semakin dipermudah. Pintu demi pintu akan dibuka semakin lebar, menyisakan batas-batas yang semakin tipis. Sebagai pasar, ini akan menjadi sangat besar. Bayangkan saja, total populasinya sekitar 625 juta orang. Karenanya, setiap negara akan berkompetisi untuk merebut kue pasar terbesar melalui keunggulan produk dan jasa. Jika daya saingnya kuat, maka era MEA ini berarti menjadi peluang yang sangat menjanjikan. Namun jika daya saing melempem, alih-alih mendapatkan bagian kue pasar cukup, yang terjadi justru resiko babak belur karena hanya akan menjadi pasar yang menggemukkan tetangga. Dengan tingkat kesiapan seperti gambaran di atas tadi, bagaimanakah kita akan menghadapi tantangan-tantangan baru nanti?

 

Soal kekurang-siapan ini, bukan hanya Indonesia saja yang mengalami. Negara-negara lain pun mengalaminya, hanya mungkin pada sektor dan dalam derajat yang berbeda. Jika berhitung tingkat pertumbuhan industri per-tahun, posisi Indonesia cukup lumayan, setidaknya lebih baik ketimbang Singapura dan Thailand. Namun jika ternyata pertumbuhan itu masih banyak ditopang oleh konsumsi, ini justru memunculkan kekhawatiran yang lain lagi. Jangan sampai kita hanya menjadi target pasar, dan ini perlu digarisbawahi tebal-tebal.

 

Berbicara tentang MEA adalah berbicara tentang daya saing. Untuk bisa mengubah tantangan menyusul diberlakukannya MEA nanti menjadi peluang, penguatan daya saing menjadi isu yang sangat penting untuk terus digodog dan dimatangkan, baik itu daya saing produk maupun jasa, yang berarti daya saing sumber daya manusianya. Untuk kompetisi di sektor produksi, langkah pemerintah untuk benar-benar memberlakukan standar nasional (SNI) patutlah diapresiasi dan didukung. Begitu juga dengan fokus penyiapan pada sektor-sektor unggulan. Jika ini nanti benar diterapkan, dengan potensi yang kita miliki, masih ada harapan besar untuk menjadi pemain industri yang diperhitungkan. Harapan yang mensyaratkan kerja keras dan kerja cerdas semua pihak untuk bisa benar-benar mewujudkannya. Sambil, tentu saja, mengejar ketertinggalan pada sektor-sektor lain yang masih jauh dari kondisi siap. Sementara untuk sektor jasa, terutama untuk sektor yang terlebih dulu dibuka seperti bidang teknik rancang bangun, kesehatan, tenaga survei, akuntan dan pariwisata, tekad pemerintah untuk mengejar percepatan peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui program peningkatan kompetensi sangat penting untuk digeber lagi. Peningkatan yang mulai terasa di sektor pariwisata, yang sepertinya merupakan sektor paling siap untuk menjawab tantangan MEA, bisa menambah semangat para pihak untuk terus bekerja sama dan menggeber penguatan daya saing di sektor jasa lainnya ke level yang lebih tinggi lagi. Ini sangat penting mengingat angka pengangguran kita masihlah sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Jangan sampai tenaga kerja asing berduyun-duyun masuk dan merebut kesempatan kerja mereka dengan mudahnya.
 

Masih ada lima belas hari lagi sebelum era MEA diberlakukan.  Semoga saja halaman-halaman depan media yang akhir-akhir ini didominasi pemberitaan seputar kegaduhan politik tanah air, dalam waktu-waktu ke depan ini banyak memberikan ruang untuk sosialisasi dan edukasi lebih lanjut pada publik terkait agenda ini. (L. Bekti Waluyo)

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2