Setelah sekian lama berlarut-larut dengan berbagai polemik dan perdebatan, akhirnya KTT Perubahan Iklam yang tahun ini digelar di Le Bourget Paris (COP 21 UNFCC) mencapai kesepakatan. Ini adalah kabar baik yang penting untuk digemakan dan dicatat. Hari Sabtu (12/12/2015), molor satu hari karena alotnya perundingan, sekitar 195 perwakilan negara menyetujui teks hasil kesepakatan yang kemudian diumumkan sebagai Paris Agreement. 

 

Kesepakatan ini mencakup persetujuan batas kenaikam suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celcius, penetapan secepat mungkin bagi para pihak yang terlibat dalam menekan emisi gas rumah kaca melalui pengembangan teknologi, perhatian pada pembangunan berkelanjutan dan pemberantasan kemiskinan,  penguatan pemulihan kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim, dan penetapan secara kolektif untuk pendanaan 100 miliar dolar AS pertahun sebelum pertemuan COP tahun 2025. Sebuah awalan baru untuk tekad bersama membangun dunia yang lebih ramah bagi generasi masa depan.

 

Ada catatan tersendiri di sini perihal alotnya pembahasan terkait ambang batas minimum, di mana 43 negara paling rentan bencana mendesakkan ambang batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celcius, dan perihal diferensiasi terkait tanggung jawab negara maju dan berkembang dalam urusan pendanaan. Untuk poin yang pertama, walaupun Indonesia termasuk negara yang rawan dampak, namun ternyata kita mendukung ambang batas yang dua derajat celcius. Alasannya, merigkas dari pernyataan ketua delegasi Rachmat Witoelar, itu adalah angka yang lebih realistis untuk bisa dicapai. Sikap yang terkesan pragmatis ini ternyata telah mengundang kritik dari sejumlah kalangan. Dari catatan ini, selain mencermati langkah pemerintah, kita juga perlu mencermati sikap dan tindakan dari kalangan yang mengkritisi itu tadi, apakah mereka turut bergiat mendukung ataukah hanya berhenti pada tindakan mengkritik saja. Sementara untuk poin yang kedua, itu menjadi sangat penting karena sikap negara maju nantinya akan sangat menentukan lancar tidaknya urusan pendanaan yang memang sangat dibutuhkan. Untuk isu terkait AS saja misalnya, sikap calon presiden Donald Trump, yang meragukan bahwa pengurangan emisi karbon dapat menyelesaikan masalah pemasanan global, telah memicu tanda tanya perihal komitmen di depan jika Trump terpilih, kendati toh sikapnya itu berlaku asimetris di kalangan Republikan. 

 

Walau masih saja ada pihak-pihak yang meragukan kesepakatan ini, bakan menganggap isu perubahan iklim hanyalah lelucon para ilmuwan, ataupun sekedar ekspresi dari orang-orang yang paranoid, bukti-bukti seriusnya dampak perubahan iklim ini semakin terlihat dan membuka lebih banyak mata lagi. Mencairnya es di kutub, meningkatnya suhu lautan, semakin seringnya banjir, terjangan badai dan semacamnya semakin ramai mengisi tayangan media. Karenanya, kesepakatan di Paris ini bisa dilihat sebagai kunci pembuka gerbang harapan masyarakat dunia untuk bersama-sama membangun masa depan kehidupann di bumi yang lebih baik. 

 

 

Di tanah air, yang wajib kita nantikan dan cermati berikutnya adalah tindak lanjut yang nyata dari para pihak, terutama pemerintah, yang dalam hal ini indikasinya bisa dilihat dari penanganan ijin pengelolaan hutan, moratorium,  lahan gambut, pengembalian fungsi hutan dan serapan air, kebijakan pengembangan energi dan sebagainya. Selain turut mengawasi dan mengkritisi, tentunya kita pun berkewajiban untuk terlibat dan mendukungnya. Dukungan itu bisa mulai dengan cara yang sederhana, seperti untuk turut aktif dalam kampanenya, di mana yang pintar melukis bisa melalui lukisan, yang piawai aransemen melalui lagu, yang aktif dalam organisasi melalui gerakan-gerakannya, yang hobi mendongeng lewat dongeng-dongengnya, dan yang suku menulis lewat tulisannya. Harapan yang terlahir dari kesepakatan Paris itu hanya bisa terwujud jika ditindaklanjuti dengan langkah nyata. (L. Bekti Waluyo)

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2