Sidang Mahkahmah Kehormatan Dewan (MKD) yang digelar secara terbuka dan disiarkan secara live oleh sejumlah stasiun televisi (TVRI, TVOne, iNews), pada 2 - 3 Desember 2015 dengan agenda mendengarkan keterangan pelapor, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, dan saksi Presiden Direktur Freeport Indonesia Maroef Syamsuddin memperkuat dugaan adanya skandal Novanto terkait akan berakhirnya kontrak karya PT. Freeport di Papua 2021. 

 

Meski berbagai pertanyaan anggota MKD terutama dari fraksi partai politik “oposisi” tidak relevan dengan substansi pertemuan Ketua DPR Setya Novanto dan Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia Maroef Syamsuddin 8 Juni 2015. Bahkan acap menjebak pelapor ketika anggota majelis menanyakan apa motif melaporkan kasus ini ke MKD dan mengapa tidak melaporkan ke penegak hukum saja. Demikian pula pertanyaan kurang lebih sama kepada Maroef tentang motif penyerahan rekaman pembicaraan itu kepada Menteri ESDM Sudirman Said dan legalitas perekaman tersebut. 

 

Padahal dari keterangan pelapor dan saksi sudah dapat disimpulkan adanya pelanggaran etika yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto. Sekurangnya terbukti yang menginisiasi atau mengundang pertemuan dan membawa serta pengusaha Mohammad Riza Chalid adalah Setya Novanto . Dalam pertemuan itu ia (Novanto) diduga mencatut nama presiden dan wakil presiden. Sebagai pejabat penyelenggara negara  Novanto juga memberi janji dan diduga untuk memperkaya diri sendiri maupun orang lain. Seperti bunyi dalam rekaman itu, “Kita happy, Pak, kalau Bung Riza yang mengatur.” 

 

Yang dimaksud Riza adalah Mohammad Riza Chalid, mantan Direktur Petral yang belum lama ini dipecat dan kasusnya masih dalam penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas laporan PT. Pertamina. 

 

Dalam rekaman itu selain nama presiden dan wakil presiden juga disebut sejumlah nama pejabat penting antara  lain Menteri Koordinator Politik Hukum Dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan yang waktu itu masih menjabat sebagai Kepala Staf  Kepresidenan. Palang pintu akses ke presiden yang juga dikenal sebagai kolega bisnis Setya Novanto maupun Riza.

Itu pula sebabnya Luhut merasa kurang nyaman dengan laporan Sudirman Said ke MKD yang didukung Wakil Presiden Jusuf Kalla. Lantas peran apa yang dimainkan Luhut dan Jusuf Kalla dibalik kasus ini semua. Maka dengan terbukanya “kotak hitam”  rekaman percakapan  Novanto, Maroef, dan Riza mempertontonkan adanya skenario persekongkolan dan perebutan lahan perburuan rente para pejabat penyelenggara negara itu. Tunggu saja “Rajawali Ngepret,” melakukan aksinya setelah  “kota hitam” skandal Novento terbuka. (Jusuf Suroso )

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2