Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali mendorong Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) mengungkap kasus yang melibatkan Ketua DPR Setya Novanto. Kalla meminta Partai Golkar tak ikut campur dalam kasus yang menjerat kadernya itu. “Jika terbukti, ini skandal terbesar di negeri ini,” kata Kalla seperti berita di Koran Tempo (2/12/2015). 

 

Dalam voting sebelumnya, anggota MKD dari Golkar bersama anggota dari Gerindra dan PPP memilih agar kasus Setya dihentikan. Terkait dengan sikap anggota MKD itu, sikap Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga kader Partai Golkar mengingatkan, jika Golkar menghentikan kasus ini, jangan lagi memakai jargon suara rakyat adalah suara Golkar. Kalla juga mempersilakan kejaksaan dan kepolisian mengusut kasus pencatutan nama ini (Kompas, 2/12/2015). Presiden Joko Widodo sendiri meminta agar semua bersabar dengan menunggu proses pengadilan kasus itu di MKD.

 

Senin lalu telah beredar rekaman berdurasi 1 jam 20 menit 17 detik versi lengkap berisi pembicaraan antara Ketua DPR Setya Novanto, pengusaha minyak M. Riza Chalid, dan pimpinan PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin. Transkrip rekaman yang beredar luas lewat media sosial itu setidaknya menyebut 17 nama tokoh terkenal di negeri ini. Tokoh dalam rekaman percakapan tersebut yang termasuk paling banyak disebut, yaitu sebanyak 66 kali, adalah Luhut Pandjaitan, salah satu menteri senior di Kabinet Kerja Jokowi, yang juga merupakan kader Partai Golkar. 

 

Jusuf Kalla betul, ini skandal terbesar! Karena Freeport adalah salah satu tambang yang fenomenal dari tanah kaya bumi Papua, dengan kekayaan cadangan emas, tembaga, dan turunannya. Juga karena kepentingan politik yang sedang bermain serta cerita panjang jejak hitam Freeport dalam sejarah kepentingan politik di Indonesia. Karena itu mudah dipahami, kasus Setya Novanto hanyalah episode kecil dari skandal besar tarik-menarik kepentingan ekonomi dan kepentingan politik yang mau mengarahkan penguasaan dan pengelolaan Freeport menjelang perpanjangan kontrak karya pada 2021.

 

Karena ini skandal terbesar, pastinya melibatkan pemain terbesar, bisnis dan politik. Sayangnya, perselingkuhan bisnis dan politik adalah invasi terbesar kepentingan publik oleh kepentingan privat yang sudah berlangsung dalam sejarah yang panjang. Sebab ada sejarahnya, karena itu terungkapnya kasus Freeport yang melibatkan Setya Novanto ini adalah bagian dari kolonisasi kepentingan rakyat oleh kelompok kepentingan tertentu.

 

Sejumlah 17 nama tokoh besar dari elite politik negeri ini yang disebut dalam rekaman, termasuk nama Presiden dan Wapres, adalah gambaran gamblang dari mengguritanya daftar rumit persoalan Freeport, Papua, dan Indonesia. Kasus Setya hanya satu babak dari skenario besar pilihan politik: perpanjang atau stop kontrak karya Freeport? Dalam transkrip rekaman pembicaraan itu Riza Chalid mengatakan, “Saya yakin Freeport pasti jalan. Kalau sampai Jokowi nekat nyetop, jatuh dia. Yang jadi itu Amerika.” Skandal besar Setya itu boleh jadi adalah babak baru dari jejak hitam Freeport di tanah Papua di bumi Indonesia. Semoga pemimpin kita mendengarkan suara rakyatnya. (Ari Nurcahyo

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2