Spectre Freeport IndonesiaFilm James Bond yang berjudul Spectre hampir berlalu dari layar lebar, sementara jejak spectre dalam kasus pencatutan nama presiden terkait kontrak Freeport masih menjadi tanda tanya besar dan kian seksi untuk diinvestigasi. Campur tangan para spectre, dalam hal ini para demit atau momok yang tak kelihatan namun sangat mempengaruhi kondisi politik ekonomi di tanah air, bisa dipastikan turut bermain dalam kasus yang melibatkan perusahaan sekaliber Freeport. Hal itulah yang akan menjadikan kasus ini potensial berlarut-larut dengan berbagai intervensi dan tarik ulurnya, baik dengan mencoba mempengaruhi framing media maupun dengan menggerakan para spin doctors dalam pembentukan opini publik dengan kemampuan kapitalnya. 

Dari eksistensi Majelis Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat (MKD), yang menjadwalkan sidang pertamanya hari Senin (30/11/2015), langkah sejumlah parpol yang tiba-tiba merotasi wakilnya di MKD, termasuk Golkar yang mengganti wakil-wakilnya dengan tiga loyalis Setya Novanto, telah melahirkan pertanyaan lain. Alih-alih menjawab tuntutan obyektivitas MKD dalam mengusut kasus yang melibatkan Setya Novanto ini, langkah itu justru mempertebal kecurigaan akan upaya penyelamatan Novanto. 

Langkah parpol di atas mendapatkan banyak porsi pemberitaan media dengan kebijakan framing masing-masing.  Jika benar dimaksudkan untuk menyelamatkan Novanto, akankah langkah itu bisa berhasil? Rakyat Merdeka dengan dua headline-nya di akhir pekan nampak menunjukkan keberpihakannya pada pemberitaan positif mengenai Menteri ESDM Sudirman Said. “Menyelamatkan Novanto Hanya Selobang Jarum,” judul headline terbitan Minggu (29/11/2015), menggarisbawahi pendapat beberapa pihak yang pesimis langkah Golkar memasukkan tiga loyalis Novanto ke MKD akan mampu berbicara banyak mengingat besarnya perhatian publik pada kasus ini dan juga kesiapan Sudirman Said untuk menunjukkan bukti-bukti yang dimilikinya. Dalam headline hari Sabtu (28/11/2015), Rakyat Merdeka juga menggarisbawahi pernyataan Sudirman Said saat menjawab serangan dan pemberitaan-pemberitaan yang menyudutkannya dengan mengangkatnya sebagai judul besar, “Yang Dibayar Akan Habis Seperti Pulsa.” Dalam pernyataannya, Sudirman Said mengklaim dirinya melaporkan Novanto ke MKD murni karena misinya untuk membersihkan praktek pemburu rente di sektor energi yang dipercayakan padanya. Sementara pada pihak-pihak lain yang berkubu dan gencar menentangnya, dia menuduh mereka itu dibayar dan karenanya nanti akan diam dengan sendirinya. Benarkah demikian?

Rakyat Merdeka boleh-boleh saja secara tegas melakukan framing demikian untuk publikasinya, dan demikian juga dengan media-media lainnya. Yang jelas, pertarungan pembentukan wacana publik masih akan terus berlanjut, mungkin melibatkan lebih banyak lagi nama-nama yang bahkan selama ini tidak diduga, dan akan semakin lebih beragam lagi di media-media medioker dan di sosial meda yang riuh diwarnai tagging dan sharing plus bumbu-bumbu yang kian mengaburkan substansi dan menjauh dari episentrum permasalahannya. Yang jelas, tidaklah memadai juga bagi kita untuk hanya merujuk pada pemberitaan satu atau dua media saja dan sama sekali mengesampingkan yang lainnya. 

Oleh sebab banyaknya kepentingan di balik kasus ini, sebagai prioritas kita harus kembali mendesakkan pentingnya obyektivitas dan transparansi MKD dalam proses penanganan kasus ini. Dari keterangan para saksi yang dihadirkan berikut bukti-bukti yang mereka bawa, potongan-potongan fakta yang kian tercerai berai semoga bisa mulai disatukan sehingga terlihat lebih utuh duduk permasalahannya. Dan agar tidak lagi gampang terdikte oleh para spectre melalui tangan-tangannya, kita harus tak bosan-bosan untuk mempertanyakan hal-hal yang mencurigakan sambil terus mengawalnya. Dalam gelaran gambar besar, kasus ini mungkin hanyalah kasus minor, karena seperti alur cerita dalam film James Bond yang berjudul Spectre, alur gerak spectre dalam kasus yang melibatkan perusahaan raksasa seperti ini sepertinya ada lebih banyak lagi fakta-fakta tersembunyi yang jika terungkap akan jauh lebih mengejutkan. (L. Bekti Waluyo)

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2