Hari Guru pada 25 November ini diharapkan menjadi momentum untuk melakukan hal nyata dan konkret bagi keberpihakan dan pembelaan kita pada profesi guru dan tenaga pendidik di semua jenjang dan wilayah. Di tengah keprihatinan manajemen guru yang buruk, selama ini profesi guru hanya menerima ode, janji, dan pujian sebagai pahlawan bangsa tanpa tanda jasa. Guru hanya harum namanya, tapi nasibnya dibuat buruk. 

 

 

Pada puncak acara Hari Guru Nasional, Presiden Joko Widodo dalam sambutannya mengungkapkan, sebagai pendidik, guru memiliki peran penting tidak hanya di kelas atau saat proses pembelajaran berlangsung, tetapi juga membentuk dan memengaruhi karakter anak atau peserta didiknya. Dengan posisi itu, semestinya guru menanamkan nilai-nilai, seperti etos kerja, kerja keras, kedisiplinan, integritas, optimisme, dan gotong royong, hingga menjadi kebiasaan. “Guru yang ceria dan optimistis bisa membuat anak-anak ikut bersemangat”, ujar Presiden (Kompas, 25/11/15).

 

Guru adalah agen perubahan bangsa. Karena profesi guru menyiapkan generasi penerus masa depan bangsa, mengajar dan mendidik murid-muridnya mencapai kesuksesan di berbagai bidang kehidupan dengan beragam profesi. Bagi sebuah bangsa, pendidikan yang baik, dengan menerapkan manajemen dan sistem pendidikan dan pengajaran yang baik, dipastikan akan menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas. 

 

Karena itu dunia pendidikan adalah cermin bening melihat generasi bangsa. Jika dunia pendidikan baik adanya, niscaya generasinya akan memiliki bangunan peradaban yang baik. Pendidikan menjadi poros hidup yang menggerakkan peradaban sebuah bangsa. Dalam dunia pendidikan yang membebaskan, profesi guru tidak hanya menjadi tenaga pengajar dan pendidik, tapi juga menjadi nyala obor yang selalu membakar semangat, teladan yang membangkitkan inspirasi keutamaan dan kemanusiaan.

 

Seraya mengafirmasi keprihatinan kondisi guru dan buruknya manajemen profesi guru di negeri ini, serentak pula sesungguhnya kita mengamini kerapuhan dunia pendidikan dan keretakan masa depan generasi bangsa di depan mata. Fenomenanya makin nyata dan kian menggejala, kita menghadapi karakter generasi yang lebih konsumtif daripada produktif, generasi yang berpuas mencari kedangkalan daripada kedalaman, generasi massa dalam arus budaya instan yang tergagap mengejar gemerlap modernitas.   

 

Indonesia beruntung punya bonus demografi dengan potensi besar orang-orang muda produktif dan kreatif. Kita tentu tidak menginginkan dunia pendidikan kita limbung dan nasib profesi guru kita buntung di tengah kampung global dan regional. Tak ada waktu lagi bersiap diri menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) di awal tahun depan. 

 

Setiap orang bisa menjadi guru bagi sesamanya, dengan keteladanan sikap menebarkan keceriaan dan optimistis di lingkungannya. Di tengah krisis harapan dan kelangkaan teladan, mari membangun solidaritas semangat: bangsaku membutuhkan aku sebagai guru yang memberi teladan hidup di setiap sudut tempat di semua jenjang kehidupan berbangsa dan bernegara. (Ari Nurcahyo)     

               

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2