Adalah pengakuan jujur pengusaha nasional Soegeng Sarjadi (alm) yang menyatakan, bahwa hampir semua pengusaha, sukses di Indonesia karena lewat “lorong hitam.” Sampai di situ salah satu pendiri Group Kodel (Kelompok Delapan) itu tak merinci apa yang ia maksud dengan “lorong hitam” itu. Boleh jadi “lorong hitam” yang ia maksud konteksnya beda dengan lirik lagu group musik Slank yang cukup terkenal itu. 

 

Kesaksian Soegeng Sarjadi itu mengonfirmasi “keuletan” pengusaha seperti Setya Novanto, bukan hanya dalam konteks bisnis tetapi juga dalam konteks yang lain. Termasuk selalu lolos dari “lubang jarum” ketika bisnis “lorong hitamnya” terancam. Sekurangnya ada enam skandal atau kasus besar yang menyeret nama Setya Novanto dalam kubangan “lorong hitam” yang belum terungkap.

 

Pertama, kasus pengalihan hak tagih Bank Bali bersama Djoko Chandra (buron), Cahyadi Kumala, dan Syahril Sabirin pada tahun 1999. Syahril Sabirin adalah Gubernur Bank Indonesia yang kemudian dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

 

Kedua,kasus penyelundupan beras dari Vietnam sebanyak 60 ribu ton pada tahun 2003. Kasusnya “masuk angin” di tangan Kejaksaan Agung.

 

Ketiga, nama Setya Novanto terseret ada dibalik penyelundupan limbah beracun (B-3) dari Singapura ke pulau Galang, Batam.

 

Keempat, kasus korupsi dana PON ke XVIII Riau tahun 2012 bersama Gubernur Riau Rusli Zainal. Ruang kerja Setya Novanto di gedung DPR pernah digeledah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun tak ada kelanjutan proses hukum yang diduga melibatkan dirinya. Sedangkan Rusli Zainal divonis bersalah dan dihukum 17 tahun penjara.

 

Kelima, nama Setya Novanto bersama mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum (terpidana kasus Hambalang) kembali disebut oleh M. Nazaruddin (terpidana kasus Hambalang), mantan Bendahara Partai Demokrat terlibat korupsi pengadaan alat pemindai E-KTP.

 

Keenam, kasus penyalahgunaan jabatan, mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla terkait lobby perpanjangan kontrak karya pertambangan PT. Freeport di Jayapura yang akan berakhir 2021.

Sabtu, 21 November 2015 lalu melalui wawancara dengan radio Elsintha, Ketua DPR Setya Novanto masih membantah tuduhan dirinya mencatut nama presiden dan wakil presiden. Apa yang ia lakukan semata-mata untuk membantu pemerintah dan kepentingan rakyat Papua. Akankah skandal Novanto bakal “masuk angin” alias lolos lagi?  (Jusuf Suroso)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2