“Mafia Migas Keruk Rp.250 Trilyun,” adalah judul berita utama Koran Tempo edisi 11 November 2015. Berita itu mengutip hasil audit forensik lembaga auditor Kordha Mentha atas Pertamina Energy Trading Ltd (Petral). Laporan itu juga menyebutkan angka Rp.250 trilyun yang dikeruk mafia migas itu selama kurun waktu tiga tahun 2012-2014. Padahal praktek mafia seperti itu sudah lama, bahkan jauh sebelum lahirnya Petral. Lantas berapa ratus trilyun lagi uang Pertamina yang sudah dijarah para mafioso itu.

 

Kerja yang sistematis melalui suatu jaringan yang melibatkan berbagai pihak. Adalah orang-orang terhormat yang ada di tubuh Pertamina, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian BUMN, para pelaku bisnis migas swasta asing maupun lokal hingga pemangku kekuasaan sekitar teras istana kepresidenan. Itu pula sebabnya, ketika isu Petral akan dibubarkan menimbulkan pro-kontra. Tidak sedikit pihak yang menyayangkan, seolah-olah Pertamina tak berdaya dan bakal bangkrut tanpa Petral. Opini yang menyesatkan yang sengaja dilansir oleh para pemangku kepentingan terkait bisnis migas di negeri ini. 

 

Bahkan Presiden Jokowi membutuhkan waktu satu tahun hanya untuk mengetahui hasil audit dalam tubuh Petral, sejak Tim Reformasi Tata Kelola Migas, bentukan Kementerian ESDM yang dipimpin ekonom Faisal Basri Desember 2014 yang mengakhiri tugasnya Mei 2015 lalu. Waktu itu Tim Reformasi merekomendasikan beberapa hal salah satu diantaranya pembubaran Petral. Tim juga menemukan praktek makelaran impor minyak yang mendapat bayaran cukup besar US$ 80 ribu per transaksi.

Sekarang terpulang pada Presiden Jokowi mau diapakan hasil audit itu ? Menyimpan dukumen untuk menyandera orang-orang terhormat yang menjadi bagian mafia migas itu, atau membiarkan hingga potongan hasil audit menjadi isu liar kemana-mana. Apabila Jokowi ingin menepati janji-janji kampanyenya, seharusnya segera diserahkan kepada penegak hukum utamanya KPK agar segera dapat mengusut unsur tindak pidana korupsinya.  (Jusuf Suroso)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2