Presiden Joko Widodo memenuhi janjinya. Setelah 70 tahun Indonesia merdeka, Joko Widodo merupakan presiden pertama yang menghadiri peringatan Hari Pahlawan di Kota Surabaya. Untuk pertama kalinya pula upacara peringatan Hari Pahlawan sebagai momen sejarah dipusatkan di Tugu Pahlawan. Peringatan ini semoga tidak seremonia belaka, tetapi bisa menghidupkan inspirasi baru seluruh elemen bangsa  menyegarkan kembali semangat pembangunan mengisi kemerdekaan dengan bekerja optimistis. 

Hal ini secara simbolis menunjukkan pemahaman Presiden Jokowi tentang kesadaran sejarah Republik bahwa Pertempuran Surabaya 10 November 1945 merupakan perang pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan satu perang terbesar dalam mempertahankan eksistensi dan esensi Indonesia merdeka. Sebab rasanya sulit memahami eksistensi kemerdekaan RI tanpa peristiwa Surabaya, yang sama sulitnya dengan memahami Proklamasi Kemerdekaan RI tanpa dua Bung: Soekarno dan Hatta.   

Esensi Indonesia merdeka tersebut yang juga hendak digugah dan diaktualkan kembali oleh Presiden Jokowi pada puncak peringatan Hari Pahlawan tahun 2015 ini dari Tugu Pahlawan di Kota Surabaya. Momen sejarah kita dari kota perjuangan Surabaya ini yang hendak dikedepankan Presiden Jokowi dengan mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak pernah letih berbuat yang terbaik mengisi kemerdekaan dengan kerja produktif membangun negeri. Dengan optimistis itu, pesan Presiden, ini penting agar NKRI tegak berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pesan itu dipertegas Jokowi dengan mengutip kata-kata Bung Tomo ketika mengobarkan semangat pertempuran Surabaya. “Kita harus selalu ingat pesan Bung Tomo; sepanjang kita masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih jadi Merah dan Putih, maka selama itu kita tidak akan mau menyerah”. 

Presiden menggugah semangat kita untuk memangun Indonesia agar menjadi negara yang maju dan mandiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Untuk itu Presiden Jokowi menyatakan, Indonesia saat ini tengah berada di awal jalan perubahan menuju penguatan fondasi pembangunan nasional. Selain demi kemakmuran rakyat, perubahan tersebut juga akan menuju ke arah Indonesia sentris dan bukan sekadar Jawa sentris (Kompas, 11/11/15). Dalam amanatnya Presiden menyampaikan, “Perubahan ke arah kebebasan berpendapat yang konstruktif dan merajut persatuan nasional, bukan menghasut konflik horizontal dan menciptakan histeria publik. Perubahan diarahkan ke penghargaan hak asasi manusia, perangi korupsi, dan pemberantasan kemiskinan”.     

Aktualisasi nilai-nilai kepahlawanan, seperti perjuangan, pengabdian, dan pengorbanan tanpa pamrih itu harus menjadi napas baru seluruh anak bangsa untuk menghidupkan semangat dan menggerakan kerja produktif membangun Ibu Pertiwi. Dalam rintih dan doanya kini “Ibu” sedang lara, karena hilangnya keutamaan berpolitik dan kecongkakan korupsi menggerototi organ-organ politik: parpol, parlemen, pemerintah, dan birokrasi yang selama ini merasa mapan dan nyaman sehingga enggan terusik perubahan. Karena masih mempunyai darah merah, kita tidak akan mau menyerah! (Ari Nurcahyo)

     

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2