Berita utama koran Kompas edisi Kamis, 5 November 2015 adalah kisruh pembuangan sampah dari ibu kota Jakarta ke tempat penampungan akhir (TPA) di Bantar Gebang, Bekasi Jawa Barat. Krisis serius soal sampah ini pernah muncul sekitar tahun 2004, 2008 dan 2014. Jauh sebelumnya masalah sampah ini sudah menjadi persoalan. Beragam gagasan dan ide untuk menanganinya dari yang sederhana sampai pada penggunaan teknologi yang katanya canggih sudah ditawarkan. Faktanya, penghujung 2015 ini krisis sampah kisruh lagi. 

 

Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta sebagai ibu kota negara dengan jumlah penduduk sekitar 8 juta setiap hari memproduksi sampah sebanyak 6.700 ton (Dinas Kebersihan 2015). Sementara kemampuan membuang sampah ke TPA sekitar 5.500 ton per hari. Artinya tidak seluruh sampah terangkut dari tempat-tempat penampungan sementara yang tersebar diberbagai sudut kota metropolitan. 

 

Krisis sampah ini melengkapi beragam krisis yang mendera negeri ini, setidaknya sepanjang era reformasi 1998 hingga 2015. Krisis terakhir yang cukup menarik perhatian bukan hanya masyarakat Indonesia tetapi juga manca negara adalah paparan asap. Sebelumnya negeri ini juga dilanda beragam krisis terkait masalah perekonomian, politik, hukum, keadilan dan kebenaran, energi, nilai tukar rupiah, krisis moral, dan kepemimpinan yang berdampak sangat luas hingga mempengaruhi tata kelola pemerintahan. Hal itu dapat terlihat ketika “sampah-sampah korupsi” berserakan dimana-mana, kian merajalela menyelimuti pusat-pusat kekuasaan hingga jajaran birokrasi terbawah.

 

Setitik harapan muncul ketika Joko Widodo (Jokowi) mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu terpilih menjadi presiden. Namun harapan itu mulai kabur tertutup oleh beragam kabut krisis tersebut hingga setahun masa jabatan Presiden Jokowi. Memang masih ada sisa masa jabatan sekitar ampat tahun, mampukah Presiden Jokowi memanfaatkan sisa waktu itu untuk menyingkap “kabut sampah-sampah” itu untuk menemukan kembali Indonesia yang bersih dan mengagumkan. (Jusuf Suroso)     

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2