Setelah hampir setahun diduduki kubu Agung Laksono, kantor DPP Partai Golkar akhirnya bisa dipakai pengurus di bawah kepemimpinan Aburizal Bakrie (Ical). Hari Senin (2/11) Ical dan fungsionaris lain datang menggelar rapat. Ketua Umum DPP hasil Munas Bali itu juga bertemu Ketua DPP Munas Ancol Yorrys Raweyai. Mereka membahas konsolidasi partai setelah islah dalam silaturahmi nasional (silatnas), Minggu lalu. Kedua kubu membahas strategi menghadapi pilkada serentak 9 Desember 2015.

Harus diakui peran aktif Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), mantan Ketua Umum Partai Golkar sangat besar di balik rencana islah Partai Golkar ke depan. JK mengaku telah berkomunikasi secara intens dengan kedua kubu, Agung dan Ical. Aksi JK itu mendapat apresiasi dari banyak kalangan karena menyelamatkan Golkar ikut Pilkada serentak 9 Desember 2015.

Dalam kesepakatan tersebut ada empat poin yang ditandatangani Ketua Umum dan Sekjen dari kedua kubu. Pertama, Setuju mendahulukan kepentingan Golkar ke depan sehingga ada calon pemimpin yang diajukan dalam Pilkada 2015. Kedua, Setiap kubu sepakat membentuk tim penyaringan calon pemimpin yang diajukan secara bersama di daerah dan selanjutnya diajukan dalam Pilkada 9 Desember 2015.

Ketiga, Calon yang diajukan Partai Golkar harus memenuhi kriteria yang disepakati bersama dari kedua kubu. Keempat, Terkait soal keabsahan tentang siapa yang menandatangani pendaftaran calon pimpinan daerah untuk Pilkada yang akan diserahkan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU). Lantas apakah islah ini hanya demi Pilkada 9 Desember 2015 yang bersifat sementara dan setengah hati? Mengapa tidak dibuat islah permanen jangka panjang?
Peluang islah permanen akan tergantung dari kemauan politik masing-masing pimpinan kedua kubu yang berseteru. Jika kedua kubu tetap bersikukuh pada egonya masing-masing, islah yang difasilitasi JK tak akan bertahan lama. Islah permanen harus demi masa depan Golkar agar kandidat kepala daerah tidak lari ke partai lain.

Sebab setelah islah permanen Golkar perlu menggelar Munas bersama membentuk pengurus baru yang sesuai dengan kesepakatan bersama. Kedua kubu yakin islah merupakan bentuk komitmen bersama agar tidak mengganggu kader Golkar di daerah yang maju Pilkada 9 Desember 2015. Sehingga islah Golkar tak boleh setengah hati, demi masa depan Golkar sendiri ke depan (Swan).

 

 

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2