Berita menarik dan menyita perhatian dunia, adalah insiden saling berdesakan pada puncak ibadah haji Kamis, 24/9/2015 di Mina Saudi Arabia. Insiden itu mengakibatkan 796 orang meninggal dunia dan 863 luka-luka. Informasi terkini korban keganasan calon haji ini juga merenggut 34 calon haji dari Indonesia tewas dan 90 dinyatakan hilang (Kompas, 28/9/2015).

Sebelumnya, 12/9/2015 terjadi insiden di Masjidil Haram, ambruknya mesin derek raksasa (crane) yang memakan korban jiwa 111 orang meninggal dan 331 luka-luka. Dari jumlah korban itu terdapat 11 jemaah haji Indonesia meninggal dan 42 orang luka-luka. Insiden serupa yang terjadi terkait pelaksanaan haji terhitung sejak tahun 1975 sampai 2015 sebanyak 10 kali dengan total korban meninggal dunia sebanyak 3.000 orang jemaah haji.

Insiden haji ini mengundang reaksi keras dari pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengecam pemerintah Saudi Arabia yang harus bertanggungjawab dan meminta maap pada keluarga korban. Sementara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla hanya mengingatkan agar pemerintah Saudi Arabia mendengarkan masukan dari para pemimpin negara-negara lain yang menaruh perhatian insiden ini. Ia percaya pemerintah Saudi telah berusaha untuk memperbaiki sarana dan prasarana haji.

Namun perbaikan sarana dan prasarana termasuk menejemen penyelenggaraan haji sejalan dengan kualitas tuntutan pelayanan para jemaah haji, ternyata tak cukup berarti untuk mencegah terjadinya insiden serupa terulang dan terulang lagi. Artinya perbaikan fisik bukan satu-satunya jalan keluar agar jutaan orang dari berbagai negara itu dapat menuaikan ibadah dengan nyaman.

Perbaikan sikap mental bagi penyelenggara maupun calon jemaah haji itu sendiri yang menjadi kata kunci agar ibadat haji terselenggara dengan aman dan nyaman. Sikap mental penyelenggara di nilai baik, manakala dapat melayani dengan hati. Bukan melalui pendekatan bisnis semata. Demikian pula calon jemaah haji harus menunjukan perilaku seturut dengan iman dan keyakinannya, mampu menahan diri, tidak saling mendahului, dan saling mendorong. Apapun alasannya, haji macam apa ketika melihat ada yang jatuh bukan berusaha menolong, malah turut menginjaknya. (Jusuf Suroso)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2