Berita menarik pada Kamis, 10/9/2015 adalah pernyataan Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Soenarko yang menyatakan, 82 persen pelaku tindak pidana korupsi di Indonesia adalah lulusan pendidikan tinggi, yang menjabat di lingkungan pemerintah kabupaten, kota maupun provinsi. Soenarko menyatakan itu dalam Workshop Pencegahan Korupsi di Indonesia di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya 9/9/2015 (republika.co.id).

Sedangkan akar penyebab korupsi adalah krisis identitas dan orientasi kemanusiaan, kegagalan pendidikan, lemahnya kontrol dalam keluarga, aktualisasi agama terlalu normatif serta proses politik yang buruk.

Menurut Soenarko, ada sekitar 1.365 kasus korupsi yang telah berkekuatan hukum tetap atau in kracht dari rentang waktu 2001 hingga saat ini. Jika diestimasi, kerugian negara mencapai Rp168,19 triliun. Tetapi, jumlah uang yang berpotensi kembali ke negara hanya Rp 15,09 triliun atau sekitar 8,97 persen.

Pelaku tindak pidana korupsi pasti berpendidikan tinggi seturut dengan jenjang kariir mereka yang mempersyaratkan harus berpendidikan tinggi. Salah satu syarat utama untuk menduduki jabatan-jabatan tersebut memang harus sarjana. Persoalannya mengapa kemudian mereka korupsi? Bukan hanya karena adanya peluang atau kesempatan tetapi juga kehidupan yang kian pragmatis dan hedonis yang selalu menggoda mereka.

Namun yang memberi sumbangan terbesar mengapa mereka korup lebih disebabkan sebagian besar kualitas perguruan tinggi kita memang buruk. Secara idiologis perguruan tinggi di negeri ini sudah berubah menjadi ajang bisnis dan hanya mengejar keuntungan materi belaka. Tidak lagi memperhatikan misi utama perguruan tinggi sebagai persemaian kader intelektual yang memiliki integritas dan moralitas. Akibatnya, perguruan tinggi gagal melahirkan sarjana, ilmuwan yang cerdas dan bermutu, memiliki integritas dan moralitas yang tinggi, syarat utama pencegahan tindak pidana korupsi. (Jusuf Suroso)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2