Berita menarik perhatian publik pada Kamis, 3 September 2015 adalah rumor pencopotan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Polri, Komjen Budi Waseso. Spekulasi penggantian Kabareskrim ini beredar dikalangan wartawan yang sehari-hari meliput kegiatan di istana. (Kompas,3/9/2015). Namun tidak ada konfirmasi pejabat yang memiliki otoritas terkait kebenaran berita itu termasuk Kapolri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti.

Komjen Budi Waseso di lantik menjadi Kabareskrim 19/1/2015 menggantikan Komjen Suhardi Alius. Sepak terjangnya menarik perhatian publik, cekatan dan lincah seolah-olah memperlihatkan polisi yang tegas dalam menjalankan tugas penegakan hukum. Namun, penegakan hukum yang ia lakukan ditengarai beretikad jahat ketika polisi melakukan penyidikan perkara-perkara sepele yang syarat dengan muatan “kriminalisasi” dan pelemahan pemberantasan korupsi.

Arogansi Komjen Budi Waseso mulai terlihat belangnya ketika ia mengantongi 49 nama aktivis anti korupsi yang dilaporkan dengan berbagai tuduhan. Dari 49 nama itu yang saat ini sudah masuk dalam proses hukum adalah dua pimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. Dan dua pimpinan Komisi Yudisial (KY) Suparman Marzuki dan Taufiqurrohman.

Pertengahan Juli 2015 lalu Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti memelopori petisi melalui situs change.org yang ditujukan pada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan judul “Copot Kabareskrim Budi Waseso.” Petisi itu ditandatangani sekitar 20 ribu orang dan sudah diserahkan pada presiden 22 Juli 2015 lalu.

Lantas apa reaksi Komjen Budi Waseso terkait rumor pencopotan dirinya. Ia menyatakan siap, seandainya dimutasi. "Saya ini prajurit Bhayangkara sehingga tugas saya ini amanah yang harus saya kerjakan sebaik mungkin. Ketika dianggap sudah cukup, ya, tidak masalah, kan, tidak selamanya saya menjabat sebagai Kabareskrim," katanya (Kompas,3/9/2015).

Namun dibalik rumor dan pernyataan-pernyataan yang tersiar di berbagai media (cetak, televisi, radio, dan media sosial), benarkah Rabu 2/9/2015 malam Budi Waseso terlihat ada di sekitar istana? Benarkah Budi Waseso meminta perlindungan atau konsultasi dengan presiden? Bisa benar bisa tidak, namanya juga spekulasi, bahwa Budi Waseso dekat dengan Jokowi itu soal lain. Namun, terlalu kecil dan merendahkan wibawa presiden, apabila presiden menerima dan ikut campur tangan soal Kabareskrim. (Jusuf Suroso)

 

 

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2