Isu perombakan Kabinet Kerja pekan ini kian mengerucut. Sesuai janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada para ekonom dan tokoh Muhammadyah Syafii Maarif bahwa pengumuman perombakan kabinet itu sebelum lebaran (Kompas,6/7/2015). Sementara lebaran sesuai kalender nasional akan jatuh pada tanggal 17-18 Juli 2015. Sehingga hanya menyisakan waktu lima hari kerja lagi.

Sementara itu dalam diskusi yang bertajuk “Trisakti Macet, Reshuffle Jalan Keluarnya,” Deputi IV Bidang Komunikasi Politik Kantor Staf Presiden Eko Sulistyo mengatakan, sejumlah nama telah disiapkan presiden berdasarkan berbagai masukan dan pertimbangan. Namun kapan pengumumannya, menurut Eko Sulistyo, hanya presiden yang tahu (Kompas,9/7/2015).

Berbagai pendapat dari kalangan pengamat, akademisi maupun politisi mendesak presiden untuk segera mengganti sejumlah menteri yang ditengarai kinerjanya buruk. Terutama kementerian perekonomian sejak dilantik delapan bulan lalu belum memperlihatkan kinerja yang membanggakan. Bahkan kinerja perekonomian Indonesia beberapa bulan terakhir mengalami pelemahan. Padahal dalam berbagai kesempatan Presiden Jokowi selalu menekankan pentingnya kerja.. kerja.. dan kerja.

Indikator awal terjadinya pelemahan ekonomi itu terlihat dari data-data sebagaimana dikutip berbagai media masa terkait angka pertumbuhan, nilai tukar rupiah, nilai harga saham, investasi dan penciptaan lapangan kerja baru menurun dibandingkan kwartal yang sama tahun lalu. Bahkan isu terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bisa sampai Rp25.000,- Dan adanya kekhawatiran efek domino krisis ekonomi di Yunani merembes ke Indonesia, karena Indonesia termasuk 10 negara yang diprediksi tak mampu bayar hutang.

Inilah ujian pertama Presiden Jokowi dan kabinet kerjanya. Sanggupkah ia memenuhi janjinya seperti yang ia gembar-gemborkan tentang Trisakti dan Nawacita itu? Benarkah hanya dengan merombak kabinet semua akan beres? Jawabnya: tidak! Tidak semudah itu. Jokowi harus menjabarkan secara rinci, jelas, dan tegas apa itu Trisakti dan Nawacita, yang seharusnya menjadi pegangan para menteri dan penyelenggara negara lainnya. Trisakti dan Nawacita harus menjadi “GBHN”-nya kebinet kerja, para penyelenggara negara, dan rakyatnya. (Jusuf Suroso)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2