Indonesia KUAT“Yunani Bangkrut” demikian topik yang tak luput dari sorotan hampir semua media cetak di sela-sela pemberitaan lokal sepekan ini. Lebih hangat lagi cuap-cuap di media sosial, plus bumbu penyedap dengan rasa teori konspirasi sehingga mudah memviral, katanya: Indonesia berada pada urutan kelima yang akan menyusul nasib Yunani. Benarkah?

Bumi dunia maya dalam proyeksi lipatan kertas-peta tanpa skala, benar-benar menunjukkan kekuatannya. Warning kebangkrutan negara, disusul dengan referendum penentuan nasib yang bermuara pada penyerahan kedaulatan ke negara lain, menjadi gosip yang dibesar-besarkan di social-media. Kegamangan ekonomi dan kondisi keuangan nasional diterjemahkan sebagai resonansi gejolak keuangan global yang ditandai dengan kebangkrutan Yunani (Greece). Bayangkan, isu sebuah negara nun jauh disana –berjarak puluhan ribu mil laut yang memaksa KRI Dewaruci menempuh waktu sekian bulan pelayaran menuju Teluk Pagasitikos, Yunani– berhasil menggetarkan jantung masyarakat Indonesia.

Gelitik media sosial yang bisa jadi membuat merinding ini mengundang penulis untuk menilik lebih dalam kondisi internal penyebab kebangkrutan Yunani. Pencapaian hutang 120% dari posisi GDP berlanjut pada kegagalan pembayaran hutang. Praktek korupsi mencapai skor 43 dari skala 100 bagi negara terbersih, menurut Index Persepsi Korupsi 2014 yang dikeluarkan oleh Transparency International. 30% penerimaan pajak menguap tidak jelas setiap tahunnya.

Ternyata aspek-aspek internal yang mirip dengan kondisi di Indonesia tersebut yang telah memunculkan 'ide' bahwa Indonesia pun selangkah menuju kebangkrutan. Fakelaki atau uang suap dalam istilah Yunani tak ada bedanya dengan ‘pungli’ atau pungutan liar yang sudah dimaklumkan terjadi di setiap level birokrasi kita. Praktek korupsi dengan skor 34 bahkan lebih ‘gila’ dari Yunani. Bagaimana pula dengan penguapan penerimaan pajak atau dana yang bocor sebelum masuk ke dalam kas negara?

Kembali pada pertanyaan, apakah Indonesia benar-benar akan bangkrut? Ada kesimpulan yang melegakan pada diskusi yang diadakan oleh PARA Syndicate dalam acara Syndicate Update seri ke-3 (Juli 2015), bahwa kondisi Indonesia tidaklah sama dengan Yunani. Ekonomi Indonesia masih lebih kuat dengan pertumbuhan di atas 4% dan surplus pada neraca perdagangan. Adanya pembangunan infrastruktur yang nyata bagi peningkatan ekonomi jangka panjang. Serta salah satu hal yang tak kalah pentingnya adalah kepercayaan internasional, dimana Indonesia tidak lagi dimasukkan dalam jajaran negara yang rapuh (fragile states), sehingga hal ini dapat berdampak pada dunia investasi yang positif. Rasanya tidak salah jika penulis berani menarik kesimpulan bahwa Indonesia tidak akan bernasib sama seperti Yunani saat ini —akan bangkrut.

‘Ojo gumunan’, quite concerned but there is no need to panic. Sebuah negara tak akan runtuh dalam semalam, karna benih kehancuran pasti telah lama dan jauh tertanam di dalam lembaga-lembaga politiknya. Menjaga dan membangun politik yang berdaulat berarti juga membangun negara. Membangun negara yang sejahtera, sudah pasti mensejahterakan rakyatnya. Jangan pula hanya berharap pada nasib baik atau bantuan luar, namun berjuang sebagai satu bangsa untuk selamat dari eksploitasi arus global yang berkendara Kapitalisme Negara Core/Borjuis. (Ad Agung)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2