Tahun anggaran 2015/2016 adalah tahun berat bagi perekonomian Indonesia. Dalam konteks itu menurunnya harga saham dan nilai tukar rupiah menjadi indikator paling kasat mata perihal lemahnya perekonomian kita sekarang ini. Nilai tukar dan indeks saham kembali di zona merah dengan tergelincirnya rupiah Rp13.350 dan IHSG sekitar 5.000.


Muncul argumen pelemahan lebih diakibatkan oleh dampak eksternal, sementara fundamen ekonomi dalam negeri masih solid, makin kehilangan pijakannya, terutama dengan tergelincirnya sejumlah indikator makro ekonomi dan sektor riil. Belum lagi kini utang kita bertambah Rp850 trilyun, terdiri dari pemerintah China Rp650 Trilyun, Bank Dunia Rp143 trilyun, dan Islamic Development Bank Rp66 trilyun (Rakyat Merdeka, 2 Juli 2015). Lantas apakah pemerintahan Presiden Jokowi mampu membendung pelemahan ekonomi itu?

Faktor eksternal memang memainkan peran terbesar atas pelemahan itu. Penguatan dollar AS dan rencana kenaikan suku bunga AS (The Fed) membuat dana global kembali bergerak ke AS membuat pasar saham dan nilai tukar negara berkembang tertekan. Namun, faktor dalam negeri juga punya andil yang cukup signifikan. Termasuk pelambatan pertumbuhan ekonomi domestik dan inflansi. Di luar itu, ada peningkatan kebutuhan dollar untuk membayar utang luar negeri dan kebutuhan impor jelang Ramadhan.

Ada kesan otoritas ekonomi semakin kehilangan langkah mengendalikan pergerakan roda ekonomi saat ini. Otoritas lambat mengantisipasi, sementara berbagai insentif kebijakan yang diambil belum berdampak positif di lapangan. Situasi kegamangan di pasar menunjukkan ada perbedaan persepsi dalam membaca situasi yang muncul. Sayang, otoritas kita belum melihat situasi itu yang memerlukan langkah cepat untuk menghindari tekanan yang lebih besar.

Kita berharap perkembangan dalam negeri ada langkah konkrit untuk menenangkan pasar, guna membalikkan sentimen negatif dan kegamangan yang ada, mengembalikan stabilitas ekonomi secara keseluruhan, serta mencegah meluasnya ketidakpercayaan publik. Karena kondisi ekonomi makro saat ini ditengarai adanya penurunan pertumbuhan dan gejolak sektor riil yang cenderung tanpa kendali dan itu cukup mengkhawatirkan. (FS Swantoro)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2