Upaya pelemahan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum berakhir. Setidaknya sejak kriminalisasi terhadap komisioner dan pimpinan KPK jilid II hingga jelang berakhirnya masa bakti komisioner dan pimpinan KPK jilid III Desember 2015 ini. Mulai dari kasus Cicak versus Buaya, penetapan tersangka pimpinan dan penyidik KPK hingga revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, yang intinya hendak memereteli kewenangan hingga melemahkan lembaga anti rasuah ini.

Revisi atas UU Nomor 30 Tahun 2002 ini bukan usul baru, gagasan yang sama pernah dilontarkan DPR periode 2009-2014, gagal karena tidak mendapat respon dari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kali ini DPR mendapat “angin segar”sokongan sekurangnya dari Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk melakukan perubahan atas pasal-pasal tertentu yang menjadi kekuatan KPK, antara lain kewenangan penyadapan dan penghentian perkara.

Wakil Presiden Jusuf Kalla secara tegas mendukung pembatasan penyadapan. Namun dia menepis apabila pembatasan kewenangan diartikan sebagai upaya untuk mengurangi kewenangan KPK, tetapi diperketat (Koran Tempo, 18/6/2015). “Silat lidah” gaya Jusuf Kalla bisa dipahami, terkait kepentingan dan hubungan Jusuf Kalla dengan kalangan dunia usaha. Setidaknya komunikasi Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan koleganya, terutama kalangan dunia usaha akan terbebas dari radar penyidik KPK.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) boleh saja berusaha tetap mengedepankan komitmennya menegakan pemerintahan yang bersih dan anti korupsi, namun apa daya ketika para pembantunya, partai pendukungnya, DPR dan birokrasi-nya korup. Mungkinkah Presiden Jokowi dapat melepaskan diri dari kepungan rezim koruptor? (Jusuf Suroso)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2