Nilai tukar rupiah dan indeks saham kembali memasuki zona ketidakstabilan. Pekan ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tergelincir di bawah 5.000 dan nilai tukar rupiah mendekati Rp 13.400 per dollar AS. Di tengah tekanan faktor eksternal, pelemahan rupiah dan koreksi IHSG ini melemahkan argumen yang mengatakan bahwa fundamental ekonomi dalam negeri tetap kuat. Penurunan sejumlah indikator makro ekonomi, perbankan, dan sektor riil menjadi sinyal ke arah zona ketidakstabilan itu.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan sedang berada di titik terendah. Akhir tahun lalu, realisasi pertumbuhan ekonomi tercatat hanya 5,02 persen. Tapi pelambatan terus berlanjut hingga triwulan I-2015 dengan mencatatkan pertumbuhan ekonomi hanya 4,71 persen saja. Lemahnya realisasi investasi, belanja pemerintah yang belum optimal, penurunan ekspor, dan aliran modal keluar menjadi faktor yang melemahkan perekonomian domestik. Sejak awal Maret tahun ini terjadi arus modal keluar sekitar Rp 20 triliun yang jauh melampaui arus modal masuk.

Faktor eksternal diakui memainkan peran dominan terhadap pelemahan perekonomian dalam negeri Indonesia. Membaiknya ekonomi AS yang ditandai menguatnya dollar AS dan rencana kenaikan suku bunga AS membuat aliran dana global bergerak masuk ke AS, sehingga menekan pasar saham dan nilai tukar mata uang banyak negara termasuk Indonesia. Sementara faktor internal memang sedang terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi domestik, kenaikan impor kebutuhan dan tekanan inflasi khususnya pangan menjelang puasa dan lebaran. Pemerintah mengaku kesulitan mengantisipasi kenaikan harga komoditas pangan khususnya daging sapi dan ayam mendekati Ramadhan.

Baru beberapa pekan lalu, Standard & Poor’s menaikkan peringkat utang RI menjadi layak investasi. Artinya Indonesia sangat direkomendasikan sebagai tujuan investasi. Namun, pemerintah seperti kehilangan momentum tersebut, karena otoritas ekonomi dianggap lambat melakukan antisipasi dengan terobosan stimulus perekonomian dan insentif kebijakan yang bisa membangkitkan optimisme pasar dalam negeri. Kita berharap ada perbaikan ekonomi global sehingga tidak meluncur menuju krisis dan pemerintah juga sigap melakukan langkah kebijakan yang tepat untuk mengembalikan kepercayaan dan memulihkan zona stabilitas ekonomi Indonesia. (Ari Nurcahyo)

Category: Scrutiny 2015-2017

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate

  • 1
  • 2